| Rancang Bangun Inovasi |
: |
DASAR HUKUM
- Undang-Undang Nomor. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
- Undang-Undang Nomor. 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan Informasi Publik
- Undang-Undang Nomor. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak (Pasal 22)
- Peraturan Pemerintah Nomor. 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif.
- Peraturan Gubernur Sumatera Barat No. 62 tahun 2018 tentang Inovasi Daerah
PERMASALAHAN Permasalahan makro Laporan Born Too Soon: Decade of Action on Preterm Birth (WHO, UNICEF, PMNCH, 2023) mencatat 152 juta bayi lahir prematur secara global dalam kurun waktu 2010 - 2020, dengan angka yang tidak membaik di seluruh kawasan dunia sehingga menjadikan prematuritas sebagai penyebab utama kematian bayi global. Tingginya angka bayi yang dirawat di NICU menyebabkan beban psikologis orang tua juga meningkat. Pediatric Research, th 2024 mengungkapkan bahwa orang tua yang bayinya di rawat di ruangan NICU mengalami psychological distress mencapai 93%. Riset di Indonesia menunjukkan sekitar 45% hingga 60% ibu mengalami stres tingkat sedang hingga berat saat bayinya dirawat di ruang NICU. Maryatun dkk (2025) dalam penelitiannya menegaskan bahwa keterbatasan informasi dan ketidakpastian kondisi medis bayi di dalam inkubator diidentifikasi sebagai salah satu faktor utama yang melonjakkan tingkat kecemasan psikologis orang tua. scoping review 2025 dan feasibility study Swiss,Th 2025 menegaskan bahwa komunikasi yang jelas, konsisten, dan terstruktur terbukti efektif menurunkan stress pada orang tua, meningkatkan self-efficacy, serta mempercepat adaptasi keluarga terhadap perawatan NICU serta menjadikan komunikasi bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak dalam pelayanan.
Permasalahan mikro
- Dari 23 kelahiran caesar pada bulan januari 2025 di RSUD prof M yamin pariaman, terdapat 19 bayi yang dirawat di ruangan NICU, dan berdasarkan hasil wawancara di lapangan terdapat 80% orang tua bayi mengatakan cemas akan kondisi yang dialami bayi mereka.
- Keterbatasan akses informasi mengenai kondisi bayi selama masa perawatan memicu respons stress psikologis pada orang tua berupa kecemasan, ketidakpastian, dan perasaan kehilangan kendali (loss of control). Secara klinis, kondisi stres akibat minimnya informasi ini memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin pada orang tua, khususnya ibu. Peningkatan kadar kortisol yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik dan psikologis ibu, tetapi juga menghambat kemampuan orang tua dalam memproses informasi klinis secara rasional serta menurunkan kualitas interaksi antara orang tua dan bayi saat sesi kunjungan berlangsung (Hall & Steinberg, 2013).
- Berdasarkan hasil wawancara di ruangan NICU RSUD Prof. H. Muhammad Yamin SH pada januari 2025 dari 10 orang tua bayi yang dirawat, sebanyak 8 orang tua bertanya kepada petugas tentangperkembangan kondisi bayi, hasil pemeriksaan, jadwal tindakan, kebutuhan bayi, serta waktu kepulangan, yang menandakan kebutuhan akan informasi keluarga masih tinggi.
Isu Strategis
Global Kematian neonatal masih menjadi tantangan utama pencapaian SDGs secara global. Berdasarkan data UNICEF (2024), tercatat 2,3 juta bayi meninggal dalam 28 hari pertama kehidupan, dengan angka kematian neonatal global sebesar 17,2 per 1.000 kelahiran hidup. Meski SDGs menargetkan penurunan hingga ≤12 per 1.000 kelahiran hidup pada 2030, lebih dari 60 negara diperkirakan tidak akan mencapai target tersebut (WHO/UNICEF, 2024). Bayi prematur dan sakit kritis merupakan kelompok paling rentan yang membutuhkan layanan NICU intensif untuk menekan angka kematian ini. Pendekatan Family Centered Care (FCC) terbukti meningkatkan keselamatan pasien dan kepuasan keluarga, dengan komunikasi efektif sebagai pilar utamanya. Namun, tingginya beban kerja dan keterbatasan waktu tenaga kesehatan menciptakan kesenjangan antara urgensi FCC dan realitas implementasinya di lapangan.
Transformasi pelayanan kesehatan digital. WHO melalui Global Strategy on Digital Health 2020–2025 menetapkan pemanfaatan mobile health (mHealth) sebagai prioritas strategis. WhatsApp dengan basis pengguna luas, sifat real-time, rendah biaya, dan familiar bagi masyarakat, menjadikannya solusi paling realistis untuk menjembatani permasalahan komunikasi di ruangan NICU (UNICEF, 2024)
Nasional Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2024), sebanyak 26.657 kematian neonatal (80,46%) dari seluruh kematian bayi dan balita terjadi pada usia 0–28 hari, hal ini menegaskan bahwa pelayanan NICU menjadi prioritas nasional menuju target SDGs 2030 (≤12 per 1.000 KH). Selain itu, penerapan Family Centered Care (FCC) melalui komunikasi efektif menjadi aspek penting yang perlu diperkuat. Berbagai penelitian di rumah sakit Indonesia secara konsisten menunjukkan kebutuhan informasi menjadi prioritas kedua tertinggi bagi orang tua bayi NICU setelah kepastian keselamatan bayi (Kajian FCC, RS Pemerintah Bandung Raya) dan keterbatasan komunikasi terbukti berhubungan signifikan dengan kecemasan orang tua (RSUD Kab. Buton, 2024; RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh). Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi yang belum optimal bukan isu lokal semata, melainkan pola nasional yang berulang di berbagai daerah. Di sisi lain, 90,8% pengguna internet Indonesia telah menggunakan WhatsApp dengan 112 juta pengguna aktif menjadikannya media paling realistis untuk menjembatani komunikasi tersebut (We Are Social, 2025).
Lokal Berdasarkan data RSUD Prof M Yamin Pariaman, terdapat 23 bayi lahir secara cesar di ruang NICU pada bulan Januari 2025 tercatat sebanyak 18 orang bayi yang dirawat, dengan penyebab utama meliputi prematuritas, komplikasi persalinan, dan kondisi kritis lainnya seperti asfiksia dan berat badan lahir rendah (BBLR). Tingginya jumlah bayi yang membutuhkan perawatan intensif ini menunjukkan besarnya kebutuhan keluarga akan informasi yang jelas, konsisten, dan berkelanjutan mengenai kondisi serta rencana asuhan bayi mereka selama masa perawatan. Adanya karakteristik ruang NICU yang menerapkan prinsip kewaspadaan infeksi demi keselamatan bayi dengan membatasi kunjungan terhadap bayi, menyebabkan penerapan FCC berjalan kurang optimal. Komunikasi yang dilakukan dalam bentuk lisan antara petugas dan orang tua. Pada era digital saat ini, whatsapp telah menjadi media komunikasi yang familiar dan digunakan secara luas oleh masyarakat, termasuk dalam konteks layanan kesehatan. Pemanfaatan WhatsApp secara terstruktur berpotensi menjadi solusi untuk melengkapi keterbatasan komunikasi lisan di ruang NICU, dengan menyediakan media komunikasi yang lebih konsisten, terjadwal, dan terdokumentasi, tanpa mengurangi prinsip kewaspadaan infeksi yang harus tetap dijaga demi keselamatan bayi.
Metode Pembaruan Kondisi Sebelum adanya inovasi
- 80% orang tua bayi yang dirawat pada bulan Januari 2025 mengeluhkan kurangnya informasi mengenai kondisi dan rencana asuhan bayinya,
- 70% orang tua bayi yang dirawat pada bulan Januari 2025 menyatakan penjelasan yang diterima dari petugas berbeda sehingga menimbulkan kebingungan.
- 90% orang tua bayi yang dirawat pada bulan Januari 2025 menyatakan merasa cemas mengenai kondisi bayinya selama masa perawatan di NICU.
Kondisi setelah adanya inovasi
- 80% orang tua bayi yang dirawat di NICU menyatakan telah menerima informasi mengenai kondisi dan rencana asuhan bayinya secara rutin melalui NICU CARE.
- 80% orang tua bayi yang dirawat di NICU menyatakan penjelasan yang diterima dari petugas telah seragam dan konsisten, sehingga tidak lagi menimbulkan kebingungan.
- 70% orang tua bayi yang dirawat di NICU menyatakan merasa lega karena memperoleh informasi yang jelas dan dapat diandalkan mengenai kondisi bayinya selama masa perawatan di NICU.
- Keunggulan
- Akses Informasi Cepat dan Real-Time
- Mengurangi Kecemasan Orang Tua
- Efisiensi Komunikasi tanpa perlu mengulang penjelasan secara individu.
- Orang tua merasa lebih terlibat dalam proses perawatan, sehingga tercipta kolaborasi yang baik antara keluarga dan tenaga kesehatan
Cara Kerja Inovasi
- Saat bayi masuk ruangan NICU, petugas mencatat dan memverifikasi nomor WhatsApp orang tua/wali, Menjelaskan fungsi WA NICU Care, meminta persetujuan orang tua untuk digabungkan dalam grup WA
- Perawat mengirim update informasi harian, kebutuhan yang dibutuhkan bayi selama rawatan, edukasi kesehatan dan jadwal visite dokter di ruangan NICU dikirim melalui WA group
- Orang tua dapat berkomunikasi dengan perawat melalui Whatsap pada jadwal yang di tentukan (13.00 – 16 .00 wib)
- Saat pasien pulang nomor orang tua bayi dikeluarkan dari WhatsApp Group.
|