Opera Santai (Orientasi Pasien Baru Santun Aman Terarah Akrab Informatif)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Digital
Inisiator Inovasi : Ns. Serly Aprilia Nst, S.Kep
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis Inovasi Opera Santai (Orientasi Pasien Baru Santun Aman Terarah Akrab Informatif)

 
Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Tujuan inovasi OPERA SANTAI adalah Memudahkan pasien baru atau keluarga mendapatkan layanan orientasi

 
Manfaat Inovasi :
  1. Pasien lebih memahami informasi yang diberikan
  2. Menghemat waktu pelayanan karena penjelasan tidak perlu dilakukan berulang oleh petugas.
  3. Informasi yang diberikan lebih seragam sehingga kualitas layanan tetap konsisten.
  4. Meningkatkan kenyamanan dan pengalaman pasien sejak pertama kali menerima layanan.
  5. Mendukung efisiensi kerja sehingga petugas dapat fokus pada pelayanan klinis lainnya.
  6. Memperkuat citra rumah sakit yang modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Hasil Inovasi :
  1. Terciptanya media orientasi digital (video) yang berisi informasi layanan secara ringkas dan mudah dipahami.
  2. Waktu pelayanan menjadi lebih efisien
  3. Tingkat pemahaman pasien terhadap prosedur meningkat
Uji Coba Inovasi : Kamis, 02 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Minggu, 02 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi Opera Santai (Orientasi Pasien Baru Santun Aman Terarah Akrab Informatif)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan;
  2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
  3. Peraturan Pemerintah Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah;
  4. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik di Lingkungan Kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah;
  5. Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 62 Tahun 2018 tentang Inovasi Daerah;

PERMASALAHAN

Persoalan Makro

Peningkatan jumlah pasien baru di fasilitas pelayanan kesehatan merupakan tren global yang sejalan dengan meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan. World Health Organization dalam Global Patient Safety Action Plan 2021–2030 menyatakan bahwa komunikasi yang tidak efektif antara sistem pelayanan dan pasien masih menjadi faktor utama kejadian yang merugikan pasien, terutama pada fase awal pelayanan ketika pasien menerima informasi (World Health Organization, 2021). Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sistem orientasi internal pasien baru yang efektif. Johnson et al. (2022) melaporkan lebih dari 50% pasien tidak memahami informasi layanan ketika edukasi disampaikan secara lisan, hal inidilihat dari ketidakmampuan pasien mengingat dan menjelaskan kembali informasi yang telah diberikan. Hal ini sejalandengan penelitian Ha dan Longnecker (2023) yang menyatakan bahwa komunikasi satu arah tanpa umpan balik meningkatkan risiko kesalahpahaman, di mana sekitar 26–59% pasien salah memahami informasi kesehatan penting yang disampaikan secara verbal, sehingga berdampak pada meningkatnya komplain, ketidakpuasan, serta potensi gangguan keselamatan pasien,

Persoalan Mikro

Di RSUD Prof H Muhammad Yamin SH di temukan permasalahan :

  1. Pelaksanaan orientasi pasien baru dan keluarga membutuhkan waktu relatif lama (±20 menit).
  2. Tingginya kebutuhan pengulangan informasi Dimana rata-rata 3 dari 5 keluarga pasien menanyakan kembali informasi yang telah disampaikan.
  3. Rendahnya pengetahuan pasien baru atau keluarga mengenai materi orientasi, berdasarkan data yang diperoleh rata” pengetahuan pasien tatau keluarga 53,3% dari 100
  4. Tidak tersedianya media orientasi yang dapat diakses ulang oleh pasien dan keluarga secara mandiri.

ISU STRATEGIS

Global

Permasalahan orientasi internal pasien baru yang masih mengandalkan metode ceramah berkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pada SDGs Tujuan 3 (Good Health and Well-Being), WHO menegaskan bahwa mutu layanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh efektivitas komunikasi dan edukasi pasien, karena edukasi yang tidak efektif meningkatkan risiko ketidakpatuhan dan insiden keselamatan pasien (World Health Organization, 2021). Selanjutnya, SDGs Tujuan 4 (Quality Education) menekankan pentingnya edukasi yang inklusif dan adaptif, sementara metode ceramah satu arah terbukti kurang efektif dibandingkan edukasi berbasis multimedia dalam meningkatkan pemahaman pasien (Morgado et al., 2024). Kondisi ini juga berkaitan dengan SDGs Tujuan 10 (Reduced Inequalities), karena pasien dengan literasi kesehatan rendah lebih rentan mengalami miskomunikasi, sehingga diperlukan pendekatan orientasi yang lebih inklusif untuk mengurangi kesenjangan pemahaman layanan kesehatan (World Health Organization, 2021).

Nasional

Pemerintah secara nasional mendorong peningkatan literasi digital masyarakat sebagai bagian dari transformasi pelayanan publik. Namun, pada sektor pelayanan kesehatan, pemanfaatan media digital dalam orientasi internal pasien baru masih belum optimal, sehingga penyampaian informasi layanan masih didominasi metode lisan. Kondisi ini berdampak pada rendahnya pemahaman pasien terhadap sistem pelayanan rumah sakit, sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian Sari et al. (2022) yang melaporkan bahwa 56,3% pasien baru belum memahami alur pelayanan setelah mengikuti orientasi awal secara lisan. Sejalan dengan itu, Putri dan Wulandari (2021) mencatat bahwa keterbatasan media pendukung orientasi menyebabkan rendahnya penyerapan informasi layanan, sehingga pemahaman pasien terhadap orientasi internal rumah sakit belum optimal.

Lokal

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendorong percepatan digitalisasi layanan publik, termasuk di sektor kesehatan. Namun, di RSUD Prof. Muhammad Yamin SH, orientasi pasien baru masih didominasi metode lisan sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman informasi, pelanggaran tata tertib, serta risiko terhadap keselamatan pasien. Berdasarkan hasil kuisoner rata- rata pengetahuan pasien atau keluarga setelah diberikan orientasi yaitu 53,3 dari 100. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi pasien baru belum efektif.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi sebelum adanya inovasi

  1. Perawat memberikan layanan orientasi secara lisan
  2. Durasi pemberian layanan orientasi yang cukup lama (±20 menit)
  3. Rata- rata pengetauan pasien atau keluarga 53,3 %

Kondisi setelah adanya inovasi

  1. Pasien dan keluarga dapat mengakses informasi orientasi secara mandiri melalui media yang telah disediakan.
  2. Durasi pemberian layanan orientasi berlangsung secara cepat (±5 menit )
  3. Rata- rata pengetauan pasien atau keluarga 90 %

KEUNGGULAN

  1. Penyampaian informasi yang praktis, cepat, dan mudah diakses
  2. Materi yang sudah distandarisasi membuat informasi lebih konsisten dan mengurangi risiko kesalahan penyampaian.
  3. Meningkatkan efisiensi karena mengurangi penjelasan berulang, menghadirkan kesan pelayanan yang lebih modern dan profesional, serta membantu meningkatkan kenyamanan pasien melalui tampilan informasi yang jelas dan menarik
  4. Mengurangi beban kerja perawat

CARA KERJA INOVASI

  1. Pasien masuk ke rawat inap dan disambut oleh petugas.
  2. Perawat membantu pasien men-scan QR Code atau membuka link akses ke media digital orientasi.
  3. Pasien baru ataukeluarga mempelajari layanan orientasi internal di perangkatnya
  4. Petugas melakukan klarifikasi singkat dan menjawab pertanyaan pasien sesuai kebutuhan.
  5. Petugas melakukan evaluasi
  6. Pasien mengulang materi digital kapan saja untuk memperkuat pemahaman.