SIFA (Suami Ikhlas Fasilitasi Pemulihan Ibu)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Digital
Inisiator Inovasi : Sandi Mayasa Kumala, Amd. Keb
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis Inovasi SIFA (Suami Ikhlas Fasilitasi Pemulihan Ibu)

Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Tujuan Inovasi SIFA adalah Teroptimalisasikannya pelaksanaan mobilisasi dini pada Ibu Post SC

Manfaat Inovasi :
  1. Ibu termotivasi dan melakukan mobilisasi dini dengan dukungan suami sebagai fasilitator
  2. Mengurangi keluhan ibu seperti kembung, sembelit, dan badan kaku, ibu merasa lebih fit dan pemulihan ibu lebih cepat
  3. Ibu secara mental dan fisik lebih siap dalam menjalani proses perawatan post sc
  4. Suami lebih aktif dalam proses pemulihan ibu.
  5. Berkurangnya potensi terjadinya baby blues atau depresi post partum karena kehadiran suami sebagai pendamping utama ibu
  6. Terbentuk ikatan (bonding) yang lebih kuat antara suami dan istri. Suami merasa bangga karena memiliki peran krusial dalam "menyelamatkan" kesehatan istrinya, sesuai dengan nilai Ikhlas dan tanggung jawab dalam budaya lokal.
Hasil Inovasi :
  1. Mengurangi resiko baby blues dan depresi postpartum.
  2. Meningkatkan pelaksanaan ASI Eksklusif.
  3. Menurunnya kejadian infeksi luka operasi.
Uji Coba Inovasi : Kamis, 02 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Senin, 03 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi SIFA (Suami Ikhlas Fasilitasi Pemulihan Ibu)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM

  1. UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
  2. UU NUU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak (Pasal 22)
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif.
  4. Peraturan Menteri Kesehatan No 6 Tahun 2026
  5. Peraturan Gubernur no. 62 tahun 2018 tentang inovasi daerah
  6. Surat Keputusan Direktur RSUD Prof H Muhammad Yamin, SH no Tahun 2026

PERMASALAHAN

Permasalahan Makro

Pemulihan pasca operasi Sectio Caesarea (SC) merupakan tantangan kesehatan globalkarena prosedurnya termasuk operasi besar yang memerlukan waktu pemulihan 6 hingga 8 minggu. Berikut adalah beberapa permasalahan utama dalam pemulihan ibu pasca operasi sc seperti:

  • Masalah Tromboemboli (Penyumbatan Pembuluh Darah)

Risiko penyumbatan pembuluh darah pada ibu pasca SC meningkat 4 hingga 10 kali lipat dibandingkan persalinan normal menurut Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG).

  • Masalah Ileus Paralitik (Gangguan Pencernaan)

Secara global, sekitar 10% - 15% pasien pasca bedah perut mengalami gangguan pencernaan. Mobilisasi dini dalam 6 jam

terbukti mempercepat pengembalian fungsi usus hingga 30% lebih cepat. Sumber: Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) Society Guidelines.

  • Masalah Infeksi Luka Operasi (SSI) & Penyembuhan Luka

Angka infeksi luka operasi di negara berkembang berkisar antara 3% hingga 15%. Di Indonesia, penelitian di berbagai RSUD menunjukkan angka keterlambatan penyembuhan luka mencapai 18% - 25% pada ibu yang takut bergerak, WHO (Global Guidelines for Prevention of SSI) & Riskesdas.

  • Masalah Nyeri dan Kinesiophobia (Takut Bergerak)

Sekitar 60% - 70% ibu mengalami nyeri sedang hingga berat dalam 24 jam pertama. Studi lokal di Indonesia menyebutkan  bahwa 76,5% ibu yang tidak melakukan mobilisasi dini mengalami pemulihan luka yang lebih lambat.

Permasalahan Mikro

Pada Ruangan Rawatan Kebidanan RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, S. H ditemukan sebanyak 3 dari 7 pasien atau 42% dari jumlah pasien pasca operasi pada bulan Juli-Agustus 2025 mengeluh sulit bergerak karena badan terasa kaku, perut terasa kembung dan konstipasi. Hal ini dilaporkan ibu disaat petugas melaksanakan visite. (ambil sample satu tahun hasil terakhir 42%)

ISU STRATEGIS

Global

  1. Peningkatan Tren SC Global Angka SC naik dari 7% (1990) menjadi 21% (2021) dan diprediksi mencapai 29% pada 2030 (WHO). Sehingga dipredikasi akan semakin banyak ibu yang berisiko mengalami komplikasi bedah jangka panjang.
  2. Infeksi Luka Operasi (SSI). Prevalensi infeksi pasca SC di dunia berkisar 3% - 15%, bahkan di negara berkembang mencapai 30%. Mobilisasi dini yang difasilitasi suami meningkatkan sirkulasi oksigen untuk cegah infeksi.
  3. Krisis Kesehatan Mental 1 dari 5 ibu di dunia mengalami gangguan mental pascasalinan (Postpartum Depression). Peran suami sebagai pendamping utama terbukti menurunkan kecemasan ibu secara signifikan.
  4. Protokol ERACS/ERAS : Standar dunia kini mewajibkan mobilisasi dalam 6-12 jam pertama. Suami adalah satu-satunya pendamping yang ada di sisi ibu selama 24 jam untuk menjalankan protokol ini.

Nasional

  1. Target Penurunan AKI Target Nasional 2024 : 183/100.000 KH. Komplikasi nifas (infeksi/emboli) masih menjadi penyumbang utama.
  2. Prevalensi SC Nasional : Angka SC di Indonesia mencapai 17,6% (Riskesdas 2018), melebihi batas aman WHO (10-15%).
  3. Budaya "Involved Fatherhood" : Kemenkes mendorong peran ayah dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
  4. Masalah Kejiwaan (Baby Blues) : Prevalensi Baby Blues di Indonesia mencapai 50% - 70% pada ibu primipara (pertama kali).

Lokal

  1. Tingginya Angka SC di Sumbar : Prevalensi SC di Sumbar mencapai 23,64%, menduduki peringkat atas di Indonesia (Riskesdas). Kebutuhan akan program pemulihan pasca SC sangat mendesak bagi ribuan ibu di Sumbar setiap tahunnya.
  2. Budaya Matrilineal & Peran Suami Dalam budaya Minangkabau, yaitu urusan nifas sering kali didominasi oleh ibu/mertua.
  3. Pengetahuan Mobilisasi Dini Studi di RSUD dr. Rasidin Padang menunjukkan rendahnya pemahaman ibu tentang gerak pasca-op

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi sebelum inovasi

  1. Ibu cenderung diam dalam 24 jam pasca operasi karena takut merasakan nyeri dan takut jahitan lepas
  2. Suami hanya sebagai “penunggu” yang pasif, bingung, atau takut untuk menyentuh ibu karena khawatir menyakiti.
  3. Ibu merasa sendirian, cemas, dan berisiko tinggi mengalami Baby Blues karena merasa tidak berdaya.
  4. Ketergantungan tinggi pada obat-obatan analgetik. Nyeri dirasakan lebih hebat karena fokus ibu hanya pada luka.
  5. Risiko tinggi perut kembung (ileus), sembelit, dan risiko infeksi luka karena aliran oksigen jaringan lambat.
  6. Ibu sangat tergantung pada bantuan bidan/perawat untuk hal kecil (minum, ganti posisi).
  7. Masa rawat inap lebih lama (4-5 hari) karena pemulihan fisik yang lamban.

Kondisi setelah inovasi

  1. Ibu aktif dalam melaksanakan mobilisasi dini dimulai dari 6 jam pertama pasca operasi sc
  2. Suami menjadi fasilitator aktif yang terampil membantu Teknik gerak ibu hasil pelatihan dari bidan.
  3. Ibu merasa aman dan didukung penuh (secure attachment), meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi sembuh.
  4. Ambang nyeri ibu meningkat berkat dukungan emosional suami dan pelepasan hormon endorfin/oksitosin alami.
  5. Fungsi usus kembali lebih cepat (cepat kentut/makan) dan aliran darah lancar yang mempercepat pengeringan luka.
  6. Ibu lebih cepat mandiri dalam perawatan diri dan mulai mampu mengurus bayinya lebih awal.
  7. Potensi pulang lebih awal (2-3 hari) karena kriteria pemulihan klinis terpenuhi lebih cepat

TAHAPAN INOVASI

Tahap 1: Edukasi Pra-Operasi (Hari H-1 atau Hari H)

  1. Bidan mengidentifikasi pasien yang akan menjalani operasi SC dan memastikan kehadiran suami/pasangan.
  2. Bidan memberikan sesi edukasi singkat kepada pasien dan suami, menjelaskan tentang:Bidan menjelaskan peran spesifik suami sebagai pendamping yang akan memberikan dukungan emosional dan bantuan fisik selama mobilisasi.
    1. Manfaat mobilisasi dini pasca operasi.
    2. Dampak buruk jika tidak bergerak (bedrest).
    3. Tahapan mobilisasi dini yang akan dijalani.
  3. Bidan menyerahkan media edukasi (pamflet dan tautan video SIFA) sebagai panduan bagi suami.

Tahap 2.1: Aktivasi Program (6-12 Jam Pasca Operasi)

  1. Bidan memastikan kondisi pasien sudah stabil, sadar penuh, dan nyeri pasca operasi terkontrol optimal.
  2. Bidan mendatangi pasien dan secara verbal mengaktifkan Program SIFA dengan melibatkan suami.
  3. Bidan memandu pasien dan suami untuk memulai mobilisasi awal sesuai urutanBidan mengevaluasi kondisi pasien (ada tidaknya pusing) dan memberikan instruksi untuk istirahat sejenak jika diperlukan.
    1. Gerakan Pergelangan Kaki: Pasien menggerakkan pergelangan kaki naik-turun dan memutar, dibantu dorongan verbal darisuami.
    2. Duduk di Tepi Tempat Tidur (Dangling): Bidan membantu pasien untuk duduk di tepi tempat tidur secara perlahan. Suami membantu menopang dan memastikan pasien stabil.

Tahap 2.2: Implementasi Berkelanjutan (Hari ke-1 hingga Pulang)

  1. Bidan menginformasikan kepada suami bahwa peran utamanya kini dimulai, yaitu memfasilitasi mobilisasi secara rutin dan mandiri.
  2. Suami secara proaktif mengajak dan membantu istri untuk berjalan di koridor atau ke kamar mandi, minimal 2-3 kali sehari.
  3. Bidan melakukan evaluasi berkala (setiap 4-6 jam) dengan menanyakan perkembangan mobilisasi, ada tidaknya keluhan, dan memberikan motivasi tambahan.
  4. Jika diperlukan, bidan akan memberikan tips praktis kepada suami, seperti cara menopang saat berjalan atau cara membantu istri dari posisi berbaring.

Tahap 3: Edukasi Pra-Kepulangan

  1. Bidan melaksanakan sesi edukasi terakhir sebelum pasien diizinkan pulang.
  2. Materi yang disampaikan meliputi:
         a. Pentingnya melanjutkan aktivitas fisik ringan di rumah.
         b. Panduan perawatan luka operasi.
         c. Tanda-tanda bahaya yang harus diwaspadai (demam, perdarahan hebat, dll.).
  3. Bidan menekankan kembali peran suami untuk memastikan pemulihan optimal di rumah.