Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap
| Tahapan Inovasi | : | Implementasi |
| Jenis Inovasi | : | Digital |
| Inisiator Inovasi | : | Suryani Mutia Dewi, A. Md. Keb |
| Urusan Inovasi | : | Kesehatan |
| Panduan Teknis Inovasi | : | Lihat Panduan Teknis Inovasi Selaras (Sistem Laporan Ruangan Spreadsheet) |
| Bentuk Inovasi | : | Inovasi Pelayanan Publik |
| Tujuan Inovasi | : |
|
| Manfaat Inovasi | : |
|
| Hasil Inovasi | : |
|
| Uji Coba Inovasi | : | Kamis, 02 Januari 2025 |
| Implementasi Inovasi | : | Senin, 03 Februari 2025 |
| Link Youtube | : |
🎥 Tonton Inovasi Selaras (Sistem Laporan Ruangan Spreadsheet) |
| Rancang Bangun Inovasi | : | Dasar HukumPelaksanaan inovasi selaras, penggunaan spreadsheet sebagai media laporan ruangan di rumah sakit berlandaskan pada:
Permasalahan Persoalan MakroTransformasi digital kesehatan global yang berkembang pesat, ditunjukkan oleh adopsi EHR di lebih dari 95% rumah sakit AS serta bukti bahwa transisi ke sistem digital dapat mempercepat akses data hingga 50% dan mengurangi waktu tunggu pasien, belum sepenuhnya diikuti oleh Indonesia yang masih tertinggal signifikan dalam transformasi ini. Dari lebih 3.000 rumah sakit di Indonesia, hanya 24,5% yang telah mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik (RME) secara penuh, sementara 36,5% belum menerapkannya sama sekali, dan hanya satu rumah sakit yang mencapai kematangan digital tertinggi (level 7) berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024. Kesenjangan ini dipicu oleh hambatan struktural yang kompleks, meliputi keterbatasan infrastruktur teknologi, jaringan internet yang belum memadai, kurangnya SDM terlatih, hingga persepsi bahwa digitalisasi hanya mencakup sebagian fungsi tanpa mengintegrasikan seluruh proses pelayanan. Akibatnya, sebagian besar fasilitas kesehatan masih bergantung pada pencatatan manual yang mengharuskan staf medis menulis ulang dan merekap data secara fisik, menimbulkan pemborosan waktu kerja, kebutuhan ruang penyimpanan yang besar, kesulitan audit data historis, serta proses rekapitulasi bulanan yang lambat dan membebani, kondisi yang secara langsung menghambat efisiensi operasional dan kualitas pelayanan rumah sakit secara keseluruhan. Persoalan MikroProses pencatatan laporan ruangan yang masih menggunakan buku manual memicu inefisiensi kerja karena perawat harus melakukan pencatatan ganda dengan SIMRS, sehingga 50% waktu kerja habis untuk administrasi dan hanya menyisakan 50% waktu untuk pelayanan langsung pasien. Selain itu, ketergantungan pada media fisik ini membuat data rentan rusak, memperlambat rekapitulasi bulanan karena harus dihitung manual, serta menyulitkan penelusuran (tracking) data historis ruangan secara mendadak baik untuk kebutuhan manajerial medis maupun riset dasar mahasiswa. Isu Strategis GlobalMenurut laporan WHO tahun 2024, inefisiensi pencatatan dan manajemen data kesehatan menjadi ancaman nyata bagi pencapaian SDG 3, di mana 1 dari 10 pasien global mengalami bahaya medis akibat sistem informasi yang tidak akurat dan lambat diakses. Kondisi ini diperparah oleh beban administratif yang menguras rata-rata 34% waktu kerja staf medis hanya untuk pencatatan manual, memicu burnout dan menurunkan produktivitas layanan hingga 30%—hambatan langsung bagi SDG 8. Keseluruhan tantangan ini mempertegas urgensi SDG 9: digitalisasi infrastruktur kesehatan melalui sistem pelaporan yang efisien, akurat, dan mudah diakses bukan lagi pilihan, melainkan keharusan global. NasionalIndonesia tengah mengakselerasi transformasi digital kesehatan melalui platform SATUSEHAT, didorong oleh mandat PMK No. 24 Tahun 2022 yang menargetkan seluruh rekam medis beralih ke elektronik pada 2024–2025. Namun realitasnya, dari 3.270 rumah sakit yang ada, sekitar 80% fasilitas kesehatan belum terintegrasi secara digital dan data masih tersebar di ratusan aplikasi yang tidak terhubung. Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis—pencatatan manual terbukti berisiko tinggi terhadap ketidakakuratan data, sementara penerapan Electronic Medical Records (EMR) mampu meningkatkan efisiensi dokumentasi hingga 30% dan memangkas waktu tunggu pasien hingga 50%. Kesenjangan antara target dan realita ini mempertegas bahwa digitalisasi pencatatan di tingkat ruangan adalah langkah mendasar yang tidak bisa ditunda. LokalTingginya ketergantungan pada administrasi manual menyebabkan sekitar 30–40% waktu kerja perawat tersita hanya untuk mendokumentasikan laporan harian dan mengisi SIMRS (Simgos), yang secara signifikan memotong alokasi waktu pelayanan langsung kepada pasien. Beban kerja manual ini juga memicu keterlambatan rekapitulasi, di mana proses pengolahan data dari buku ke laporan bulanan memakan waktu lebih dari satu bulan sehingga data yang dihasilkan seringkali tidak lagi relevan untuk bahan evaluasi cepat. Lebih jauh lagi, sistem pelaporan yang belum terdigitalisasi secara penuh ini mengakibatkan absensi data real-time, menyulitkan pencarian informasi yang cepat dan akurat saat kondisi mendesak, serta pada akhirnya menghambat laju pengambilan keputusan manajerial dan klinis yang berbasis data mutakhir. Metode PembaharuanKondisi sebelum inovasi
Kondisi Setelah Inovasi
KEUNGGULAN
Tahapan Inovasi SELARAS (Sistem Laporan Ruangan Spreadsheet)
|
