TTM (TERAPI TANGAN MANTAP)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Non Digital
Inisiator Inovasi : Veny Prima Safitri, A.Md.O.T
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis Inovasi TTM (Terapi Tangan Mantap)

Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :
  1. untuk mempermudah pasien dalam melakukan gerak tanpa menggunakan alat
  2. untuk meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan terapi
  3. untuk membantu percepatan pelayanan pasien
Manfaat Inovasi :
  1. Proses terapi bisa dipantau
  2. Proses terapi dapat dilakukan kapan saja
  3. Pelayanan lebih optimal
 
Hasil Inovasi :
  1. proses penyembuhan lebih cepat
  2. Keselamatan pasien terjaga
  3. Indeks Kepuasan masyarakat meningkat di tahun 2026
 
Uji Coba Inovasi : Kamis, 02 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Minggu, 02 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi TTM (Terapi Tangan Mantap)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM

  1.  Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
  2.  Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
  3.  Permenkes No. 23 Tahun 2013 tentang Okupasi Terapi
  4.  Permenkes No. 76 Tahun 2014 tentang Okupasi Terapi
  5.  KMK No. HK.01.07-MENKES-1072-2024 tentang Okupasi Terapi
  6.  KMK No. 548/Menkes/Per/V/2007 (sudah diperbarui)
  7.  Peraturan Gubernur no 62 tahun 2018 tentang inovasi daerah
  8.  Surat Keputusan Direktur RSUD Prof.H.M.Yamin SH no tahun 2026

PERMASALAHAN

Permasalahan Makro

Stroke adalah penyakit yang mengancam jiwa karena apabila terjadi serangan stroke, setiap menit sebanyak 1,9 juta sel otak dapat mati. Stroke merupakan penyebab utama disabilitas dan kematian nomor dua di dunia Lebih dari 12 juta orang di seluruh dunia akan mengalami stroke pertama mereka tahun ini dan 6,5 juta akan meninggal akibatnya. Lebih dari 100 juta orang di dunia telah mengalami stroke. Insiden stroke meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia, namun lebih dari 60% stroke terjadi pada orang di bawah usia 70 tahun dan 16% terjadi pada mereka yang berusia di bawah 50 tahun Dan manusia bebas untuk Kembali bangkit setelah berjuang dari sakit dan Kembali menigkatkan taraf kehidupan bermasyarakat.

Permasalahan Mikro

  1. Meningkatnya jumlah pasien stroke di Istalasi Keterapian Fisik RSUD Prof H.M.yamin Pariaman
  2. Adanya pembatasan kunjungan sesuai dengan aturan batas pasien yang bisa ditangani oleh 1 orang terapis perhari
  3. Perlunya pengulangan Latihan karena kualitas terapi sangat menentukan pemulihan pasien stroke

Isu Strategis

Global

Stroke merupakan isu kesehatan global yang signifikan dan menjadi penyebab kematian nomor dua serta penyebab disabilitas ketiga di seluruh dunia. Beban penyakit ini meningkat, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, serta memiliki dampak ekonomi yang sangat besar

Nasional

Isu nasional stroke di Indonesia sangat serius: penyebab kematian dan kecacatan nomor satu, menyerang usia muda karena gaya hidup tidak sehat (makan GGL tinggi, kurang gerak, merokok, stres) dan penyakit penyerta (hipertensi, diabetes, jantung), serta memerlukan penanganan cepat dan komprehensif, di mana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong transformasi layanan kesehatan dan edukasi gaya hidup sehat melalui program seperti CERDIK untuk pencegahan dini. Di Indonesia, stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian, yakni sebesar 11,2% dari total kecacatan dan 18,5% dari total kematian.

Lokal

RSUD Prof. H.M. Yamin mengalami kendala pasien dengan gangguan stroke dengan jadwal terapi yang tidak beraturan karena adanya aturan dari pihak penyelenggara jaminan Kesehatan dan aturan aturan terakit. Saat ini pasien dengan diagnose stroke hanya bisa terapi maksimal 2 kali sebulan karena adanya pembatasan jumlah pasien dan jadwal yang selalu penuh setiap saat. Sehingga untuk pemulihan sangat sulit dilakukan, padahal inti dari terapi adalah pengulangan aktivitas yang terus dipantau dan berpola dengan baik. Pasien cenderung asal saat Latihan dan selalu berpikir “yang penting sudah gerak”. Padahal terapi ada aturan dan tata cara yang jelas sehingga tidak terjadi malpraktik atau kesalahan fungsi lainnya

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

  1. Pasien merasa terapi tidak lah cukup karena keterbatasan waktu dan jadwal terapi.
  2. Pasien asal asalan dalam terapi dan tidak sesuai anjuran.
  3. Tata cara terapi Latihan yang tidak sesuai dengan kondisi pasien
  4. Tidak ada perubahan signifikan
  5. Daya juang, motivasi, dan emosional pasien sangat jelek Setelah inovasi
  6. Pasien sangat senang karena bisa terapi dirumah dan dipantau setiap pertemuan dengan terapis di rumah sakit
  7. Pasien serius dalam terapi dan sesuai anjuran
  8. Tata cara terapi Latihan dilakukan sesuai dengan kondisi , aset dan limitasi pasien
  9. adanya perubahan signifikan
  10. Pasien merasa Bahagia sehingga menimbulkan daya juang dan memotivasi pasien untuk pulih

Keunggulan Inovasi

  1. Pasien bisa melakukan aktivitas terapi Latihan untuk tangan dirumah secara mandiri
  2. Pasien tidak memerlukan alat untuk terapi
  3. Pasien semangat untuk datang Kembali sebagai evaluasi Latihan yang telah dilakukan dirumah
  4. Latihan jadi terukur dan bisa dilihat perubahan yang signifikan
  5. Bangkitnya kepercayaan diri pasien
  6. Kepuasan Terapi okupasi dan pasien bertambah

Tahapan Kerja

  1. Pasien duduk dikursi secara mandiri dan ada kaca besar dihadapannya
  2. Terapis Okupasi mengontrol postur dan koreksi postur pasien.
  3. Terapis okupasi mengidentifikasi kelemahan pasien di sebelah kanan atau kiri
  4. Setelah itu Terapis meminta pasien untuk mengepalkan kedua tangan secara bertaut dengan posisi tangan lemah dibawah
  5. Kemudian Terapis okupasi meminta pasien mengangkat kedua tangan secara vertical setinggi tingginya, dan lakukan 10x pengulangan
  6. Kemudian terapis mengarahkan kedua tangan pasien yang masih bertaut secara horizontal didepan dada dan tekuk sampai membentuk posisi berdoa, lakukan 10x pengulangan
  7. Kemudian terapis mengarahkan Latihan dengan tangan yang masih berataut dan miringkan kiri dan kanan
  8. Kemudian terapis melatih jemari pasien satu satu untuk melemaskan kekuatan otot pasien.
  9. Terapis meminta pasien melakukan aktivitas ini minimal 5x pengulangan perhari