ARVINA (Aromaterapi Lavender Ibu Nyaman)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Non Digital
Inisiator Inovasi : Fitri fahmi, A.Md.Keb
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis Inovasi ARVINA (Aromaterapi Lavender Ibu Nyaman)

 
Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Mewujudkan ibu bersalin yang lebih rileks dan nyaman sehingga mendukung kelancaran proses persalinan.

 
Manfaat Inovasi :
  1. Membantu ibu bersalin mencapai kondisi relaks sehingga mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama proses persalinan.
  2. Menciptakan suasana ruang bersalin yang lebih nyaman dan kondusif bagi ibu.
  3. Mendukung asuhan kebidanan yang holistik dan berorientasi pada kenyamanan ibu.
  4. Meningkatkan mutu pelayanan kebidanan melalui inovasi pelayanan non-farmakologis.
Hasil Inovasi :
  1. Terwujudnya proses persalinan yang lebih lancar melalui kondisi ibu yang lebih rileks selama kala I persalinan
  2. Terbentuknya pelayanan persalinan yang lebih humanis dan berorientasi pada kenyamanan ibu.
  3. Terbentuknya pengalaman persalinan yang lebih positif bagi ibu
  4. Peningkatan kepuasan ibu terhadap pelayanan kesehatan
  5. Meningkatnya kepercayaan dan loyalitas pasien terhadap fasilitas kesehatan
  6. Terwujudnya lingkungan ruang bersalin yang lebih kondusif dan ramah ibu sebagai standar pelayanan jangka panjang
  7. Terwujudnya penerapan terapi komplementer non-farmakologis dalam pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan.
Uji Coba Inovasi : Senin, 02 Juni 2025
Implementasi Inovasi : Selasa, 02 September 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi Arvina (Aromaterapi Lavender Ibu Nyaman)

Rancang Bangun Inovasi :

Dasar Hukum

  1. Undang undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan
  2. Permenkes RI Nomor 15 Tahun 2018 mengatur tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit
  4. Pergub No 62 tahun 2018 tentang Inovasi Daerah

Permasalahan

Permasalahan makro

Kecemasan selama kehamilan hingga memasuki kala I persalinan merupakan salah satu masalah kesehatan maternal yang masih menjadi perhatian secara global. Meta-analisis yang melibatkan 102 penelitian dengan 221.974 perempuan dari 34 negara melaporkan bahwa prevalensi gejala kecemasan mencapai 24,6% pada trimester ketiga kehamilan, sedangkan prevalensi gangguan kecemasan sebesar 15,2%, menunjukkan bahwa kecemasan merupakan kondisi yang umum dialami ibu menjelang persalinan. Kecemasan pada kala I persalinan merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memengaruhi proses fisiologis persalinan melalui peningkatan hormon stres, seperti katekolamin dan kortisol, yang berpotensi mengurangi efektivitas kontraksi uterus, meningkatkan persepsi nyeri, serta berhubungan dengan meningkatnya risiko persalinan memanjang dan kebutuhan intervensi obstetri. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3 (Good Health and Well-being), khususnya Target 3.1, yaitu menurunkan angka kematian ibu menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Oleh karena itu, diperlukan pelayanan persalinan yang tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis ibu melalui intervensi nonfarmakologis yang berbasis bukti untuk membantu ibu lebih rileks selama kala I persalinan.

Permasalahan mikro

Pada tahun 2025 terdapat 122 persalinan pervaginam di Ruang PONEK RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, S.H., yang meliputi persalinan spontan, vakum ekstraksi, dan persalinan letak sungsang. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap 10 ibu bersalin kala I menggunakan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) serta didukung dengan lembar observasi respons perilaku ibu, diperoleh bahwa 7 dari 10 ibu (70%) mengalami kecemasan sedang hingga tinggi. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa ibu tampak gelisah, wajah tegang, sulit rileks saat menghadapi kontraksi, serta mengungkapkan rasa takut terhadap proses persalinan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecemasan masih menjadi salah satu permasalahan dalam pelayanan persalinan kala I yang memerlukan penanganan secara komprehensif. Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi berupa media relaksasi nonfarmakologis yang praktis, aman, dan mudah diterapkan untuk membantu mengurangi kecemasan ibu selama kala I persalinan, sehingga dapat meningkatkan kenyamanan ibu dan mendukung proses persalinan yang lebih optimal

Isu Strategis

Global

Kecemasan menjelang dan selama persalinan merupakan masalah kesehatan psikologis ibu yang berdampak pada proses persalinan dan pengalaman bersalin yang buruk; penelitian menunjukkan bahwa sekitar 8–10 % wanita hamil mengalami kecemasan selama kehamilan dan angka ini meningkat menjadi sekitar 13% saat menjelang persalinan. Kecemasan tinggi pada kala I persalinan dapat memperburuk persepsi nyeri, menambah stres fisiologis, dan berpotensi memperlambat kemajuan persalinan, sehingga menjadi faktor yang mempengaruhi hasil kesehatan ibu dan bayi secara menyeluruh. Dalam Sustainable Development Goals (SDG) Target 3.1, dunia berupaya menurunkan angka kematian ibu (sebagai indikator kesehatan ibu yang efektif; namun kualitas pengalaman persalinan (termasuk keadaan psikologis ibu) juga penting sebagai bagian dari tujuan kesejahteraan ibu yang lebih luas. Dengan demikian, masalah kecemasan dan kurangnya pendekatan relaksasi selama persalinan menjadi isu strategis global yang perlu diintegrasikan dalam layanan kesehatan ibu untuk mendukung pencapaian SDGs.

Nasional

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan ibu merupakan salah satu fokus pembangunan kesehatan di Indonesia, khususnya dalam penyelenggaraan pelayanan persalinan yang aman, bermutu, dan berpusat pada ibu. Selain aspek klinis, pelayanan kebidanan juga dituntut mampu memenuhi kebutuhan psikologis ibu selama proses persalinan melalui penerapan intervensi yang aman, efektif, dan berbasis bukti. Berbagai penelitian di Indonesia melaporkan bahwa kecemasan pada ibu menjelang dan selama persalinan masih sering dijumpai dalam pelayanan kebidanan. Kecemasan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan persepsi nyeri, mengurangi kenyamanan ibu, serta berpotensi menghambat kemajuan persalinan. Kajian sistematis yang merangkum 15 penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan yang tinggi secara konsisten berhubungan dengan durasi persalinan yang lebih panjang. Temuan tersebut diperkuat oleh salah satu penelitian di Indonesia yang dilakukan di RSUD Abdul Rivai pada tahun 2023, yang menunjukkan bahwa 86,9% ibu dengan kecemasan berat mengalami persalinan kala II memanjang, lebih tinggi dibandingkan ibu dengan kecemasan sedang (25,6%). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kecemasan selama persalinan perlu menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kebidanan melalui penerapan intervensi nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan berbasis bukti untuk mendukung kenyamanan ibu serta kelancaran proses persalinan.

Lokal

Di Provinsi Sumatera Barat, pengelolaan kecemasan ibu selama persalinan menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kebidanan. Penelitian yang dilakukan di Kota Padang menunjukkan bahwa kecemasan ibu selama persalinan berhubungan dengan lamanya proses persalinan. Persalinan yang berlangsung lebih lama diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada ibu maupun bayi baru lahir, termasuk asfiksia neonatal. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang mendukung pengelolaan kecemasan ibu selama persalinan melalui intervensi yang aman, mudah diterapkan, dan berbasis bukti sebagai bagian dari peningkatan kualitas pelayanan maternal.

Metode Pembaharuan 

Sebelum Inovasi:

  1. Belum tersedia media relaksasi berbasis aromaterapi
  2. Ibu bersalin sering menunjukkan kondisi cemas, tegang, dan mengeluhkan nyeri yang dirasakan lebih berat selama proses persalinan.
  3. Durasi persalinan cenderung lebih lama karena ibu mengalami kecemasan
  4. Belum tersedia pendekatan humanis dalam persalinan.

Setelah inovasi:

  1. Diterapkannya aromaterapi lavender melalui Program ARVINA sebagai metode relaksasi nonfarmakologis bagi ibu bersalin kala I.
  2. Ibu bersalin tampak lebih rileks, tenang, dan nyaman setelah mendapatkan aromaterapi lavender selama proses persalinan.
  3. Kemajuan persalinan lebih optimal sehingga proses persalinan lebih lancar.

Keunggulan

  1. Implementasi sederhana dengan sumber daya minimal
  2. Fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kondisi fasilitas kesehatan
  3. Mendukung transformasi pelayanan kebidanan yang humanis
  4. Meningkatkan kenyamanan persalinan dengan aromaterapi lavender.

Tahapan/Cara Kerja Inovasi

Alat dan Bahan:

  1. Diffuser aromaterapi
  2. Minyak esensial lavender 100% murni
  3. Air bersih

Prosedur:

Persiapan Petugas

  1. Petugas mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau hand rub.
  2. Petugas menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan.
  3. Petugas memastikan diffuser dalam kondisi bersih dan berfungsi dengan baik.
  4. Petugas menyiapkan alat dan bahan.
  5. Petugas memastikan ruangan bersih, tenang, dan memiliki ventilasi yang baik.
  6. Petugas menjelaskan prosedur kepada ibu serta memperoleh persetujuan tindakan.
  7. Petugas melakukan penilaian tingkat kecemasan

Persiapan Pasien

  1. Petugas melakukan identifikasi alergi atau riwayat gangguan saluran pernapasan
  2. Petugas memberikan informed consent dan minta persetujuan ibu

Pelaksanaan

  1. Petugas mengisi diffuser dengan 150 ml air besih
  2. Petugas menambahkan 6-10 tetes minyak esensial lavender 100% murni
  3. Petugas menyalakan diffuser 1-2 meter dari posisi ibu, tidak langsung mengarah ke wajah ibu
  4. Petugas membiarkan diffuser menyala selama 10-15 menit (dapat diatur sesuai kebutuhan ibu)
  5. Petugas mengamati respon ibu: ekspresi wajah, pernapasan dan kenyamanan.

Evaluasi:

  1. Petugas mengevaluasi tingkat relaksasi atau kecemasan setelah 10-15 menit
  2. Petugas mencatat hasil observasi, respon pasien
  3. Petugas menghentikan terapi segera jika ibu merasa tidak nyaman atau menunjukkan tanda alergi (sesak napas, gatal, mual).
  4. Petugas membersihkan diffuser setelah digunakan.