KLIK TERAPI (Kelompok Latihan Instruktif Keluarga – Terapi Praktis)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Non Digital
Inisiator Inovasi : Desmalinda, AMF
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis Inovasi Klik Terapi (Kelompok Latihan Instruktif Keluarga - Terapi Praktis)

Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Mendisiplinkan pasien dalam melakukan terapi latihan dirumah

 
Manfaat Inovasi :
  1. Meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari
  2. Mengurangi ketergantungan terhadap orang lain
Hasil Inovasi :
  1. Kualitas hidup pasien meningkat.
  2. Pemulihan terhadap pasien lebih cepat (8 – 10 kali terapi bisa mengurangi nyeri gerak dan spasme pada otot).
Uji Coba Inovasi : Kamis, 02 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Minggu, 02 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi Klik Terapi (Kelompok Latihan Instrukti Keluarga - Terapi Praktis)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM

  1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
  2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
  3. Permenkes Nomor 80 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Fisioterapi
  4. Permenkes Nomor 80 Tahun 2023 tentang Kewenangan Fisioterapi
  5. Permenkes Nomor 65 Tahun 2015 tentang Standar pelayanan Fisioterapi
  6. Peraturan Gubernur no 62 tahun 2018 tentang inovasi daerah
  7. Surat Keputusan Direktur RSUD Prof.H.M.Yamin SH no tahun 2026

PERMASALAHAN

Permasalahan Makro

Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan permasalahan kesehatan makro serius di Indonesia, menduduki peringkat kedua tertinggi setelah influenza dengan prevalensi mencapai 3,71% - 31,6%. Akar masalah utamanya meliputi faktor ergonomi tempat kerja (posisi duduk/berdiri lama), beban kerja fisik, usia lanjut, serta gaya hidup tidak aktif (sedentari) yang memicu disabilitas fungsional.

Low Back Pain menjadi masalah kesehatan kerja utama yang menurunkan produktivitas berkisar antara 65% - 75%, bahkan sering terjadi pada pekerja industri, operator alat berat, dan kuli panggul.

Selain pekerjaan, faktor usia di atas 35 tahun, indeks massa tubuh (IMT) berlebih (gemuk), dan merokok berkontribusi tinggi terhadap kejadian Low Back Pain.

Permasalahan Mikro

  1. Meningkatnya jumlah pasien fisioterapi
  2. Adanya pembatasan kuota pasien dari asuransi kesehatan nasional (BPJS) untuk setiap kunjungan dokter Sp.KFR
  3. Kurang efisiennya waktu pelayanan fisioterapi terhadap pasien.
  4. Kurangnya pengetahuan pasien tentang pentingnya penerapan terapi latihan secara konsisten dan berkelanjutan.

ISU STRATEGIS

Global

Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah adalah isu kesehatan global yang kritis dengan prevalensi sangat tinggi (60-80% pada orang dewasa) dan merupakan penyebab utama disabilitas serta absensi kerja di seluruh dunia, diproyeksikan mencapai 843 juta kasus pada 2050. Low Back Pain menempati peringkat tertinggi sebagai penyebab Years Lived with Disability (YLD) atau tahun hidup dengan disabilitas di banyak negara, baik maju maupun berkembang. Low Back Pain menyebabkan tingginya absensi di tempat kerja (absenteeism) dan penurunan produktivitas (presenteeism), yang mengakibatkan beban ekonomi signifikan bagi individu, perusahaan, dan sistem kesehatan.

Nasional

Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan isu strategis nasional yang serius di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 18% atau menempati peringkat ke-2 kasus tertinggi. Low Back Pain merupakan masalah kesehatan masyarakat utama dengan angka kejadian yang sangat umum di kalangan pekerja, sering menyebabkan gangguan kronis. Diperlukan intervensi promotif dan preventif, seperti edukasi ergonomi, latihan peregangan (stretching), dan perbaikan sarana kerja.

Lokal

Kasus Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan kesehatan yang cukup dominan di Sumatera Barat berkisar antara 30% - 45%, terutama yang berkaitan dengan penyakit akibat kerja (PAK) di sektor informal dan industri. Sumatera Barat termasuk dalam jajaran provinsi dengan tingkat prevalensi gangguan muskuloskeletal (termasuk Low Back Pain) yang perlu diperhatikan secara nasional. Kasus ini banyak ditemukan pada Pekerja Industri/Manufaktur, petani, sektor transportasi (pengemudi ojek online, supir, dll) serta sektor tradisional (pengrajin tradisional, dll).

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

Kasus Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan kesehatan yang cukup dominan di Sumatera Barat berkisar antara 30% - 45%, terutama yang berkaitan dengan penyakit akibat kerja (PAK) di sektor informal dan industri. Sumatera Barat termasuk dalam jajaran provinsi dengan tingkat prevalensi gangguan muskuloskeletal (termasuk Low Back Pain) yang perlu diperhatikan secara nasional. Kasus ini banyak ditemukan pada Pekerja Industri/Manufaktur, petani, sektor transportasi (pengemudi ojek online, supir, dll) serta sektor tradisional (pengrajin tradisional, dll).

Kondisi setelah inovasi

  1. Pasien mendapatkan edukasi untuk menerapkan latihan dirumah.
  2. Tujuan terapi lebih mudah tercapai
  3. Pasien lebih mengetahui latihan yang bisa dikerjakan dirumah dan lebih semangat dan konsisten dalam mengerjakan latihan dirumah.
  4. Pasien pulih lebih cepat

KEUNGGULAN

  1. Tingkat kepatuhan pasien dalam melakukan latihan dirumah menjadi lebih meningkat
  2. Efisiensi waktu dan sumber daya
  3. Melatih kemandirian pasien
  4. Memudahkan terapis dalam melakukan evaluasi terhadap pasien

TAHAPAN KERJA

  1. Melakukan pemeriksaan terhadap pasien dengan kasus Low Back Pain (Nyeri Gerak, spasme otot, keterbatasan lingkup Gerak sendi)
  2. Memberikan edukasi bagaimana cara melakukan latihan dirumah
  3. Memberikan barcode yang berisi petunjuk dan jenis Latihan yang bisa dikerjakan dirumah
  4. Memberikan kartu kendali pasien untuk mengukur tingkat kedisiplinan pasien dalam melakukan latihan dirumah
  5. Melakukan pemeriksaan lanjutan dan evaluasi terhadap pasien setiap bulan nya untuk mengetahui tingkat kesembuhan pasien.