Sampo J'Ko (Sampah Organik Jadi Kompos)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Non Digital
Inisiator Inovasi : dr. Herlina Nasution, M.Kes
Urusan Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Panduan Teknis Inovasi :

Pedoman Teknis Inovasi Sampo J'ko (Sampah Organik Jadi Kompos)

 
Bentuk Inovasi : Inovasi Perangkat Daerah
Tujuan Inovasi :

1. Mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA 
2. Mendorong Ekonomi Sirkuler
3. Mendorong tujuan pembangunan berkelanjutan SDG's 11, 12, 13
4. Mengurangi beban lingkungan, menciptakan nilai tambah dari limbah, dan mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang partisipatif dan berkelanjutan.

Manfaat Inovasi :

1. Mengurangi timbulan sampah di TPA hingga 50%
2. Menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.
3. Mengurangi emisi gas rumah kaca
4. Lingkungan Rumah sakit lebih sehat dan bersih
5. Menurunkan poerkembangbiakan vektor hingga 85%

Hasil Inovasi :

1. Sampah organik menghasilkan pupuk/kompos yang dapat di manfaatkan untuk tumbuhan yang ada di RS
2. Pupuk bisa di bagi-bagikan kepada masyarakat dan kelompok tani sekitar
3. Perkembangbiakan vektor penular penyakit dapat ditekan hingga 85%
4. Lingkungan kerja nyaman dan bersih

Uji Coba Inovasi : Selasa, 02 Januari 2024
Implementasi Inovasi : Jumat, 02 Februari 2024
Link Youtube :

πŸŽ₯ Tonton Inovasi Sampah J'Ko (Sampah Organik Jadi Kompois)

 
Rancang Bangun Inovasi :

PERMASALAHAN
-       Permasalahan Makro
Indonesia menghasilkan lebih dari 175.000 ton sampah per hari, dan sekitar 50 - 60% adalah sampah organik. Akibatnya, TPA ( tempat pembuangan sampah) menjadi overkapasitas dan rawan bencana lingkungan. Sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA) menghasilkan metana (CHβ‚„), gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida. Ini berkontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Sampah organik menyumbang 40–60% dari total timbunan sampah rumah tangga. Tanpa pengelolaan, TPA cepat penuh dan mempercepat kebutuhan lahan baru yang sering mengorbankan hutan atau lahan produktif. Pembusukan sampah organik menghasilkan bau tidak sedap, cairan lindi (leachate), dan menjadi sarang penyakit (lalat, tikus, dan lainnya). Hal ini peningkatkan risiko penyakit infeksi, seperti diare, demam berdarah, hingga gangguan pernapasan.
Di sebagian besar kabupaten/kota di Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Pariaman, Padang Pariaman, dll.), lebih dari 60% sampah rumah tangga adalah organik (sisa makanan, daun, sayur, dll.). Mayoritas sampah, termasuk organik, dibuang langsung ke TPA, seperti TPA ( pariaman), TPA Air Dingin (Padang), TPA Regional Payakumbuh, TPA Parik Rantang (Bukittinggi). Di TPA, sampah tidak bisa dipilah dan tidak bisa di olah lebih lanjut. Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah masih rendah. Program bank sampah dan kompos rumah tangga belum merata dan hanya aktif di sebagian kecil nagari/kelurahan.
-       Permasalahan Mikro
Kota Pariaman menghasilkan sampah harian sekitar 40 ton, dengan sekitar 79–80% merupakan sampah organik. Sampah organik berasal dari sisa makanan rumah tangga, daun/rumput, serta limbah pasar dan takjil (kelapa muda). RSUD Pariaman menghasilkan sampah harian sekitar 1,5 ton dan 60% nya adalah sampah organik Sampah organik yang berjumlah kurang lebih 900 kg ini menjadi penyumbang sampah yang besar di TPA Pariaman. Sampah organik ini bisa menjadi tempat berkembangbiaknya verktor yang dapat menularkan penyakit pada manusia. Sampah yang menumpuk mengurangi estetika lingkungan rumah sakit dan menimbulkan bau yang tidak sedap