SIGODA-OK (Sistem Informasi Data Obat Datang & Obat Kosong)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Digital
Inisiator Inovasi : Iqbal Yunanda Putra, Amd,Farm
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis SIGODA-OK (Sistem Informasi Data Obat Datang & Kosong)

Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Meningkatkan kelancaran dan ketepatan pelayanan kefarmasian melalui penyediaan informasi obat datang dan obat kosong yang cepat, akurat, dan mudah diakses oleh unit pelayanan farmasi.

Manfaat Inovasi :
  1. Informasi obat datang dan obat kosong dapat diperoleh secara cepat dan real time.
  2. Mengurangi kesalahan komunikasi terkait ketersediaan obat.
  3. Mengurangi gangguan pelayanan akibat keterlambatan informasi stok obat.
  4. Mendukung kelancaran operasional pelayanan rawat inap dan rawat jalan.
Hasil Inovasi :
  1. Menjadi pedoman perencanaan pengadaan obat.
  2. Pelayanan kefarmasian rawat jalan dan rawat inap menjadi lebih tertib, terencana, dan efektif.
  3. Terwujudnya inovasi pelayanan kefarmasian berbasis digital yang sederhana, mudah diterapkan, dan mudah direplikasi di fasilitas pelayanan kesehatan lain. 
  4. Menjadi sumber data monev obat.
Uji Coba Inovasi : Kamis, 02 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Rabu, 26 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi SIGODA-OK (Sistem Informasi Data Obat Datang & Kosong)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM

  1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan;

  2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik;

  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit;

  4. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah;

  5. PermenPANRB No. 91 Tahun 2021 tentang Inovasi Pelayanan Publik;

  6. Peraturan Gubernur Sumatera barat Nomor 62 Tahun 2018 Tentang Inovasi Daerah.

  7. Surat Keputusan Gubernur

PERMASALAHAN

Permasalahan Makro

World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa hampir 2 miliar penduduk dunia atau sekitar sepertiga populasi global belum memiliki akses rutin terhadap obat-obatan esensial akibat berbagai kendala, termasuk belum optimalnya pengelolaan rantai pasok dan logistik farmasi. Di Indonesia, hasil kajian Kementerian Kesehatan RI bersama WHO dan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2025 terhadap 25 fasilitas kesehatan di empat provinsi menunjukkan bahwa 64% fasilitas kesehatan memiliki ketersediaan lebih dari 80% obat esensial yang dikaji, namun kekosongan stok masih ditemukan pada beberapa obat akibat ketidakakuratan perencanaan kebutuhan, keterlambatan pengadaan, serta hambatan distribusi. Pengelolaan informasi ketersediaan obat merupakan salah satu tantangan utama dalam pelayanan kefarmasian, baik di tingkat global, nasional, maupun daerah. Keterlambatan dan ketidaktepatan informasi terkait obat datang dan obat kosong berdampak langsung pada kelancaran pelayanan. Permasalahan tersebut menunjukkan perlunya inovasi pelayanan kefarmasian yang mampu menyediakan informasi obat datang dan obat kosong secara real time, akurat, dan mudah diakses, guna mendukung kelancaran pelayanan serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.

Permasalahan Mikro

Pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan (rumah sakit), ditemukan beberapa permasalahan, antara lain:

 

  1. Pelayanan farmasi terhambat karena keterlambatan informasi obat tersedia/kosong.
  2. Pasien berisiko mengalami penundaan terapi akibat ketersediaan obat tidak segera diketahui
  3. Potensi kesalahan informasi antar unit yang menurunkan akurasi pelayanan.
  4. Efisiensi kerja petugas berkurang karena harus melakukan pengecekan manual.

ISU STRATEGIS

Global

Ketersediaan obat esensial merupakan salah satu indikator penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan di berbagai negara. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa hampir 2 miliar penduduk dunia atau sekitar sepertiga populasi global belum memiliki akses rutin terhadap obat-obatan esensial akibat berbagai faktor, termasuk tantangan dalam pengelolaan rantai pasok dan logistik farmasi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan informasi yang mampu menyediakan data obat datang dan obat kosong secara cepat dan akurat guna mendukung pelayanan kesehatan. Upaya tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3 (Good Health and Well-being) serta Tujuan 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam sistem pelayanan kesehatan.

Nasional

Dalam mendukung Transformasi Sistem Kesehatan, Pemerintah melalui Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI terus berupaya meningkatkan ketersediaan obat serta memperkuat tata kelola logistik farmasi di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, hasil kajian Kementerian Kesehatan RI bersama World Health Organization (WHO) dan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2025 terhadap 25 fasilitas kesehatan di empat provinsi menunjukkan bahwa hanya 64% fasilitas kesehatan yang memiliki ketersediaan lebih dari 80% obat esensial yang dikaji, sementara kekosongan stok masih ditemukan pada beberapa obat akibat ketidakakuratan perencanaan kebutuhan, keterlambatan pengadaan, dan hambatan distribusi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan logistik farmasi di Indonesia masih perlu diperkuat untuk menjamin ketersediaan obat secara berkelanjutan dan mendukung mutu pelayanan kefarmasian.

Lokal

Di RSUD Prof. Muhammad Yamin, penyampaian informasi mengenai obat datang dan obat kosong dari gudang farmasi kepada depo farmasi masih belum berlangsung secara cepat dan terstandar. Berdasarkan hasil observasi melalui catatan komunikasi WhatsApp Instalasi Farmasi selama Januari - Februari 2025, ditemukan bahwa beberapa informasi mengenai obat datang baru diketahui oleh depo farmasi lain setelah 1–2 hari sejak obat diterima di gudang. Kondisi tersebut menyebabkan informasi ketersediaan obat belum diperoleh secara tepat waktu, sehingga berpotensi menghambat koordinasi antar unit dan distribusi obat dalam mendukung pelayanan kefarmasian.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

Sebelum adanya SIGODA-OK :

 

  1. Informasi obat datang dan obat kosong disampaikan secara manual dan tidak terstandar

  2. Depo farmasi tidak memperoleh informasi stok obat secara cepat dan real time

  3. Kekosongan obat sering diketahui pada saat pelayanan berlangsung

Kondisi Setelah Inovasi

Setelah diterapkannya SIGODA-OK :

  1. Informasi obat datang dan obat kosong tersedia secara real time melalui Google Spreadsheet

  2. Data bersumber langsung dari gudang farmasi dan dapat diakses oleh depo farmasi

  3. Depo farmasi dapat melakukan antisipasi kekosongan obat sebelum pelayanan berlangsung

KEUNGGULAN

  1. Akurasi informasi obat datang dan obat kosong lebih tinggi

  2. Berbasis digital

  3. Bisa diakses dimana saja melalui HP atau Komputer

TAHAPAN / CARA KERJA INOVASI

  1. Petugas gudang farmasi melakukan pencatatan dan pembaruan data obat datang dan obat kosong pada sistem SIGODA-OK berbasis Google Spreadsheet.

  2. Data ketersediaan obat yang telah diperbarui tersimpan dan dapat diakses secara real time oleh depo farmasi.

  3. Depo farmasi memanfaatkan informasi tersebut sebagai dasar perencanaan dan pelaksanaan pelayanan kefarmasian.

  4. Apabila terjadi perubahan ketersediaan obat, data pada SIGODA-OK diperbarui secara berkala oleh petugas terkait dan langsung terkoneksi ke email koordinator ruangan.

  5. Informasi yang tersedia pada SIGODA-OK digunakan sebagai bahan monitoring dan evaluasi pengelolaan ketersediaan obat.