Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap
| Tahapan Inovasi | : | Implementasi |
| Jenis Inovasi | : | Digital |
| Inisiator Inovasi | : | Iqbal Yunanda Putra, Amd,Farm |
| Urusan Inovasi | : | Kesehatan |
| Panduan Teknis Inovasi | : | Lihat Panduan Teknis SIGODA-OK (Sistem Informasi Data Obat Datang & Kosong) |
| Bentuk Inovasi | : | Inovasi Pelayanan Publik |
| Tujuan Inovasi | : | Meningkatkan kelancaran dan ketepatan pelayanan kefarmasian melalui penyediaan informasi obat datang dan obat kosong yang cepat, akurat, dan mudah diakses oleh unit pelayanan farmasi. |
| Manfaat Inovasi | : |
|
| Hasil Inovasi | : |
|
| Uji Coba Inovasi | : | Kamis, 02 Januari 2025 |
| Implementasi Inovasi | : | Rabu, 26 Februari 2025 |
| Link Youtube | : |
🎥 Tonton Inovasi SIGODA-OK (Sistem Informasi Data Obat Datang & Kosong) |
| Rancang Bangun Inovasi | : | DASAR HUKUM
PERMASALAHAN Permasalahan Makro World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa hampir 2 miliar penduduk dunia atau sekitar sepertiga populasi global belum memiliki akses rutin terhadap obat-obatan esensial akibat berbagai kendala, termasuk belum optimalnya pengelolaan rantai pasok dan logistik farmasi. Di Indonesia, hasil kajian Kementerian Kesehatan RI bersama WHO dan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2025 terhadap 25 fasilitas kesehatan di empat provinsi menunjukkan bahwa 64% fasilitas kesehatan memiliki ketersediaan lebih dari 80% obat esensial yang dikaji, namun kekosongan stok masih ditemukan pada beberapa obat akibat ketidakakuratan perencanaan kebutuhan, keterlambatan pengadaan, serta hambatan distribusi. Pengelolaan informasi ketersediaan obat merupakan salah satu tantangan utama dalam pelayanan kefarmasian, baik di tingkat global, nasional, maupun daerah. Keterlambatan dan ketidaktepatan informasi terkait obat datang dan obat kosong berdampak langsung pada kelancaran pelayanan. Permasalahan tersebut menunjukkan perlunya inovasi pelayanan kefarmasian yang mampu menyediakan informasi obat datang dan obat kosong secara real time, akurat, dan mudah diakses, guna mendukung kelancaran pelayanan serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan. Permasalahan Mikro Pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan (rumah sakit), ditemukan beberapa permasalahan, antara lain:
ISU STRATEGISGlobalKetersediaan obat esensial merupakan salah satu indikator penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan di berbagai negara. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa hampir 2 miliar penduduk dunia atau sekitar sepertiga populasi global belum memiliki akses rutin terhadap obat-obatan esensial akibat berbagai faktor, termasuk tantangan dalam pengelolaan rantai pasok dan logistik farmasi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan informasi yang mampu menyediakan data obat datang dan obat kosong secara cepat dan akurat guna mendukung pelayanan kesehatan. Upaya tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3 (Good Health and Well-being) serta Tujuan 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam sistem pelayanan kesehatan. NasionalDalam mendukung Transformasi Sistem Kesehatan, Pemerintah melalui Program Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI terus berupaya meningkatkan ketersediaan obat serta memperkuat tata kelola logistik farmasi di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, hasil kajian Kementerian Kesehatan RI bersama World Health Organization (WHO) dan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2025 terhadap 25 fasilitas kesehatan di empat provinsi menunjukkan bahwa hanya 64% fasilitas kesehatan yang memiliki ketersediaan lebih dari 80% obat esensial yang dikaji, sementara kekosongan stok masih ditemukan pada beberapa obat akibat ketidakakuratan perencanaan kebutuhan, keterlambatan pengadaan, dan hambatan distribusi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan logistik farmasi di Indonesia masih perlu diperkuat untuk menjamin ketersediaan obat secara berkelanjutan dan mendukung mutu pelayanan kefarmasian. LokalDi RSUD Prof. Muhammad Yamin, penyampaian informasi mengenai obat datang dan obat kosong dari gudang farmasi kepada depo farmasi masih belum berlangsung secara cepat dan terstandar. Berdasarkan hasil observasi melalui catatan komunikasi WhatsApp Instalasi Farmasi selama Januari - Februari 2025, ditemukan bahwa beberapa informasi mengenai obat datang baru diketahui oleh depo farmasi lain setelah 1–2 hari sejak obat diterima di gudang. Kondisi tersebut menyebabkan informasi ketersediaan obat belum diperoleh secara tepat waktu, sehingga berpotensi menghambat koordinasi antar unit dan distribusi obat dalam mendukung pelayanan kefarmasian. METODE PEMBAHARUANKondisi Sebelum InovasiSebelum adanya SIGODA-OK :
Kondisi Setelah Inovasi Setelah diterapkannya SIGODA-OK :
KEUNGGULAN
TAHAPAN / CARA KERJA INOVASI
|
