DUTA ASI (Dukungan dan Upaya Tata Kelola Asi)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Digital
Inisiator Inovasi : Dian Adriani Putri, A. Md. Kebb
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Pedoman Teknis Inovasi Duta ASI (Dukungan dan Upaya Tata Kelola ASI)

Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :
  1. Meningkatkan keberhasilan pemberian ASI pada bayi yang dirawat di ruang NICU, khususnya bayi prematur dan bayi dengan kondisi khusus.
  2. Memberikan pendampingan dan edukasi berkelanjutan kepada ibu dan keluarga tentang pentingnya ASI serta teknik laktasi yang tepat.
  3. Mendukung tata kelola ASI yang aman, efektif, dan berkelanjutan di ruang NICU sesuai standar pelayanan rumah sakit.
  4. Menjadi penghubung antara ibu, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam upaya pemenuhan nutrisi terbaik bagi bayi NICU.
  5. Mencegah kegagalan laktasi dini akibat stres, keterpisahan ibu dan bayi, serta kurangnya informasi selama perawatan NICU.
  6. Menurunkan resiko infeksi, komplikasi, dan penggunaan susu formula tanpa indikasi medis pada bayi NICU
Manfaat Inovasi :

1. Bagi bayi

Bayi mendapatkan asupan ASI yang lebih optimal selama perawatan sehingga membantu meningkatkan daya tahan tubuh, mempercepat pemulihan, dan menurunkan resiko infeksi serta komplikasi

2. Bagi ibu

Memberikan dukungan emosional dan psikologis yang membantu mengurangi stress, kecemasan dan hambatan dalam produksi ASI sehingga dapat meningkatkan keberhasilan proses laktasi dan memperkuat bonding antara ibu dan bayi meskipun dalam kondisi perawatan intensif.

3. Bagi tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan memiliki alur kerja dan koordinasi pelayanan ASI yang lebih jelas, terstandar, dan mudah dipantau melalui sistem monitoring yang terintegrasi.

4. Bagi Rumah Sakit

Rumah Sakit memperoleh peningkatan mutu pelayanan kesehatan neonatal, peningkatan kepuasan pasien, serta penguatan citra sebagai fasilitas kesehatan yang mendukung program ASI ekslusif dan pelayanan ramah bayi.

5. Bagi Pemerintah dan Masyarakat

Inovasi ini mendukung program peningkatan kesehatan ibu dan anak.

Hasil Inovasi :
  1. Meningkatnya persentase bayi NICU yang mendapatkan ASI pada tahun 2025 sebesar 87,4%, meningkat sebanyak 25% dari tahun 2024

  2. Terlaksananya SOP tata kelola ASI NICU secara terstruktur dan terdokumentasi.

  3. Menurunnya penggunaan susu formula pada bayi NICU tanpa indikasi medis

  4. Meningkatnya kepuasan dan kepercayaan ibu terhadap pelayanan NICU

  5. Terbentuknya tim Duta ASI NICU yang aktif, terlatih, dan berkelanjutan.

  6. Mengembangkan peran DUTA ASI tidak hanya sebagai konselor laktasi tetapi sebagai Case Manager yaitu pendamping khusus yang mengkoordinasikan kebutuhan ASI bayi selama perawatan intensif

  7. Mengembangkan inovasi “DUTA ASI” sebagai model pelayanan neonatal yang mudah direplikasi dan mendukung peningkatan mutu Rumah Sakit secara berkelanjutan.

Uji Coba Inovasi : Kamis, 02 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Senin, 03 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi Duta ASI (Dukungan dan Upaya Tata Kelola ASI)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM INOVASI

  1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28B ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
  2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan,
  3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif,
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesi Nomor 15 Tahun 2013 tentang Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui / Memerah ASI,
  6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi
  7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan,
  8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak
  9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak di Indonesia
  10. Peraturan Gubernur Nomor 62 Tahun 2018 tentang Inovasi Daerah.
  11. Surat Keputusan Direktur RSUD Prof H. Muhammad Yamin, SH No Tahun 2026

PERMASALAHANPermasalahan MakroMasalah kesehatan neonatal tetap menjadi tantangan global yang serius. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, setiap tahun lebih dari 27 juta bayi mengalami gangguan kesehatan neonatal, dan sekitar 1,8 juta bayi meninggal pada periode neonatal (0–28 hari), sebagian besar akibat kelahiran prematur dan komplikasi terkait. Air Susu Ibu (ASI) merupakan intervensi kunci dalam peningkatan kualitas pelayanan neonatal, terutama pada bayi resiko tinggi yang dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). World Health Organization menegaskan bahwa pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan pertama kehidupan mampu menurunkan angka kematian bayi secara signifikan, sekaligus meningkatkan ketahanan tubuh melalui kandungan immunologis yang tidak dapat digantikan oleh nutrisi lain. Data UNICEF menunjukan bahwa cakupan ASI ekslusif global baru mencapai sekitar 44%, yang mengindikasikan masih rendahnya keberhasilan praktif menyusui secara optimal. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, cakupan ASI ekslusif Nasional mencapai 73,9%, kondisi ini menujukan adanya peningkatan dari tahun sebelumnya, namun pencapaian tersebut masih perlu diperkuat, terutama dalam aspek keberlanjutan praktik menyusui pada kelompok bayi rentan. Rendahnya capaian ASI eksklusif masih menjadi persoalan makro dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk di rumah sakit. Menurut WHO ± 15 Juta bayi lahir premature setiap tahunnya, sekitar 30-60% bayi di NICU tidak mendapatkan ASI ekslusif, terutama pada minggu-minggu pertama perawatan. Pada kelompok bayi yang dirawat di fasilitas kesehatan, khususnya di ruang NICU, tantangan pemberian ASI menjadi lebih kompleks. Data global menunjukan bahwa bayi premature dan sakit memiliki kebutuhan nutrisi tinggi, namun sering mengalami keterlambatan atau keterbatasan akses terhadap ASI karena kondisi klinis ibu maupun bayi. Studi menunjukan stres akibat persalinan prematur, pemisahan ibu dan bayi, keterlambatan memulai pemerahan ASI, serta kurangnya dukungan laktasi merupakan penyebab utama rendahnya produksi ASI pada ibu yang bayinya dirawat di NICU. Hambatan tersebut berkontribusi pada kegagalan pemberian ASI eksklusif hingga bayi pulang. (Heller, N., et al. (2021). International Journal of Environmental Research and Public Health). Dari sistem pelayanan kesehatan, tantangan juga terlihat pada belum optimalnya tata kelola ASI perah di beberapa fasilitas kesehatan. Secara global, proses pengelolaan ASI perah yang meliputi pemerahan, pelabelan, penyimpanan, transportasi, hingga pemberian kepada bayi memiliki risiko kontaminasi yang cukup tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat kontaminasi ASI perah di fasilitas NICU dapat mencapai 66,67% hingga 89,8%, yang sebagian besar disebabkan oleh ketidaksesuaian praktik higiene, penyimpanan, dan penanganan ASI yang tidak optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas manajemen ASI perah masih menjadi isu serius dalam pelayanan neonatal. Aspek keselamatan pasien juga menjadi perhatian utama dalam tata kelola ASI perah. Kesalahan pemberian ASI (misadministration) dan kesalahan identifikasi bayi meskipun relatif jarang, tetap menjadi insiden berisiko tinggi dalam pelayanan NICU. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem verifikasi dan pengawasan distribusi ASI perah masih belum sepenuhnya aman di beberapa fasilitas kesehatan (Radityo et al., 2019; Gad et al., 2021).

Permasalahan Mikro

Berdasarkan Profil Statistik Kesehatan Provinsi Sumatera Barat cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0–6 bulan telah mencapai 77,3% pada tahun 2023. Meskipun angka ini berada di atas rata-rata nasional (73,97%), masih terdapat sekitar 22–23% bayi yang belum mendapatkan ASI eksklusif, yang menunjukkan adanya kesenjangan implementasi di lapangan terutama pada kelompok bayi risiko tinggi seperti bayi prematur dan BBLR. Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Pariaman Tahun 2024, cakupan ASI eksklusif di Kota Pariaman mencapai sekitar 90,4. cakupan pemberian ASI eksklusif di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin pada tahun 2024 hanya mencapai 62,4%, yang menunjukkan masih rendahnya keberhasilan pemenuhan kebutuhan ASI pada bayi sesuai standar pelayanan kesehatan. Kondisi ini diperparah dengan tingginya keluhan ibu dan keluarga terhadap proses pengantaran ASI yang mencapai ≥90%. Selain itu, ≥70% tata kelola ASI perah ditemukan belum sesuai standar, meliputi proses penyimpanan, pelabelan, pendistribusian, dan pengawasan kualitas ASI yang belum dilakukan secara konsisten. Permasalahan tersebut menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam manajemen pelayanan ASI yang berpotensi menurunkan mutu pelayanan, meningkatkan risiko kesalahan pemberian ASI, serta berdampak langsung terhadap keselamatan dan pemenuhan nutrisi bayi. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan sistem tata kelola ASI perah secara menyeluruh melalui penguatan standar operasional prosedur, peningkatan kompetensi petugas, serta pengawasan yang lebih ketat dan berkelanjutan.

ISU STRAREGIS

Isu Global

ASI (Air Susu Ibu) merupakan nutrisi terbaik bagi bayi yang dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU), terutama bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), maupun bayi dengan kondisi sakit. Dengan meningkatkan pemberian ASI bagi bayi prematur dan bayi dengan kondisi khusus, dapat menurunkan risiko kematian neonatal dan komplikasi kesehatan, selaras dengan SDG 3: Good Health and Well-Being, sekaligus mencegah malnutrisi dan mendukung tumbuh kembang optimal bayi (SDG 2: Zero Hunger). Bayi yang menerima nutrisi terbaik sejak lahir memiliki peluang tumbuh kembang yang lebih baik, berkontribusi pada kualitas sumber daya manusia di masa depan (SDG 4: Quality Education), sementara pendampingan laktasi memperkuat peran ibu dalam pengasuhan bayi dan mendukung (SDG 5: Gender Equality) Dengan menjamin akses ASI yang merata untuk semua bayi, termasuk mereka dari keluarga kurang mampu, inovasi ini membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi (SDG 10: Reduced Inequalities). Selain itu, optimalisasi pemberian ASI mengurangi ketergantungan pada susu formula kemasan industri, mendorong penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan ramah lingkungan, selaras dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production. Dengan demikian, Duta ASI tidak hanya meningkatkan kesehatan dan nutrisi bayi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan sumber daya, kesetaraan, dan pembangunan SDM yang unggul sejak dini.

Isu Nasional

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu intervensi utama dalam mencegah stunting, meningkatkan status gizi bayi, serta memperkuat daya tahan tubuh anak sejak usia dini. Secara nasional, pemberian ASI di Indonesia menunjukkan peningkatan, namun masih terdapat tantangan besar terutama pada bayi yang dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Selain itu, hanya sekitar 27% bayi baru lahir yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam pertama kehidupan, yang merupakan faktor penting dalam keberhasilan pemberian ASI, terutama pada bayi dengan risiko tinggi yang berpotensi masuk NICU. (Kemenkes RI, SKI 2023) Pada konteks pelayanan NICU di rumah sakit rujukan, tantangan pemberian ASI menjadi lebih kompleks karena bayi prematur dan bayi dengan kondisi kritis sering tidak dapat menyusu langsung, sehingga sangat bergantung pada ASI perah. Namun, berbagai studi implementasi pelayanan kesehatan di Indonesia menunjukkan bahwa dukungan laktasi di fasilitas kesehatan belum berjalan optimal dan belum terstandar secara merata, sehingga keberhasilan pemberian ASI sangat bergantung pada inisiatif tenaga kesehatan dan keluarga, bukan pada sistem layanan yang terstruktur. Hal ini berkontribusi terhadap keterlambatan pemberian ASI, penurunan produksi ASI pada ibu, serta ketidakkonsistenan tata kelola ASI perah di ruang perawatan neonatal. Kondisi ini memperkuat bahwa sistem layanan neonatal, termasuk di NICU, masih membutuhkan penguatan dalam bentuk tata kelola ASI yang terintegrasi, mulai dari inisiasi, pemrosesan ASI perah, hingga pendampingan ibu menyusui secara berkelanjutan.

Isu Lokal

RSUD Prof. H. M. Yamin menghadapi tantangan dalam optimalisasi pemberian ASI eksklusif pada bayi yang dirawat di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Kondisi perawatan intensif menyebabkan terjadinya pemisahan antara ibu dan bayi sehingga proses menyusui secara langsung sering tidak dapat dilakukan secara optimal. Selain itu, masih terdapat ibu pasien yang mengalami keterbatasan pengetahuan mengenai manajemen laktasi, teknik memerah dan penyimpanan ASI, serta rendahnya kepercayaan diri akibat stres selama bayi menjalani perawatan intensif. Hal ini berdampak pada rendahnya keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan meningkatnya penggunaan susu formula tanpa indikasi medis tertentu.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

  1. ASI ekslusif tahun 2024 di Ruang NICU RSUD Prof. H, Muhammad Yamin SH sebesar 62,4%

  2. Rata-rata lama hari rawat pada bayi BBLR tanpa penyakit penyerta10-14 hari

  3. Edukasi kepada ibu bayi NICU belum dilakukan secara optimal dan berkelanjutan

  4. Ibu bayi NICU sering mengalami stress, cemas dan kurang percaya diri dalam memberikan ASI

  5. Belum ada petugas khusus yang mengawal proses pemberian ASI pada bayi NICU

  6. Pengelolaan ASI perah belum memiliki alur dan SOP yang jelas

  7. Monitoring pemberian ASI pada bayi NICU belum terdokumentasi dengan baik

  8. Penggunaan susu formula pada bayi NICU masih cukup tinggi tanpa pendampingan

Kondisi Setelah Inovasi

  1. ASI ekslusif di Ruang NICU meningkat pada Tahun 2025 menjadi 87,4%

  2. ama hari rawat pada bayi dengan BBLR tanpa penyakit penyerta turun menjadi 7-10 hari

  3. Edukasi dilakukan secara terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan melalui pendampingan Duta ASI NICU

  4. Ibu bayi mendapatkan pendampingan psikososial sehingga lebih termotivasi dan percaya diri memberikan ASI

  5. Terdapat Duta ASI yang berperan sebagai case manager selama bayi dirawat

  6. Tata kelola ASI memiliki SOP yang jelas mulai dari pemerasan, penyimpanan, hingga pemberian ASI kepada bayi

  7. Monitoring dan pencatatan ASI dilakukan setiap hari secara terukur dan terdokumentasi

  8. Penggunaan susu formula dapat ditekan sesuai indikasi medis.


KEUNGGULAN

  1. Tiga aspek utama pelayanan terintegrasi dalam satu inovasi yang komprehensif yaitu edukasi, pendampingan psikososial, dan tata kelola ASI berbasis sistem.

  2. Distribusi ASI pada bayi di ruang NICU tepat waktu

  3. Resiko penurunan produksi ASI dapat terdeteksi lebih dini

  4. Mengintegrasikan dokter, perawat, bidan, ahli gizi dalam satu sistem pelayanan ASI yang kolaboratif dan berpusat pada pasien

  5. Tidak membutuhkan biaya besar.

TAHAPAN INOVASI

     Identifikasi dan Edukasi Ibu Menyusui

Petugas melakukan identifikasi terhadap ibu yang bayinya dirawat di ruang NICU. Selanjutnya dilakukan edukasi dan konseling mengenai pentingnya ASI bagi bayi, manfaat ASI ekslusif, Teknik memerah ASI, cara menjaga produksi ASI, serta dukungan dan keluarga dalam keberhasilan pemberian ASI. Konseling dilakukan secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan di ruang NICU.

     Pendampingan Pemerahan ASI

Petugas melakukan pendampingan pemerahan ASI secara berkelanjutan melalui media Whatsapp grup dan langsung bagi ibu yang datang ke ruang NICU sebagai bentuk dukungan dalam membantu ibu untuk tetap konsisten dalam memerah ASI dan menjaga produksi ASI. Petugas memberikan edukasi dan pemantauan meliputi pengingat jadwal pemerahan ASI secara rutin, edukasi Teknik pemerahan ASI yang benar, penyimpanan ASI dan pengantaran ASI ke Ruang NICU.

     Pelabelan dan Verifikasi ASI

ASI yang diantar oleh keluarga ke ruang NICU akan dilakukan pengecekan, pemberian pelabelan berupa nama ibu, no rekam medis, tanggal pemerahan ASI dan jam memerah ASI.

     Penyimpanan ASI

ASI yang sudah diberi label disimpan di lemari pendingin atau kulkas khusus ASI sesuai dengan standar penyimpanan ASI perah. Penyimpanan dilakukan berdasarkan identitas dan waktu pemerahan dengan menerapkan prinsip FIFO (First In First Out). Pada tahap penyimpanan ASI, petugas akan menilai ketahanan ASI sesuai tempat penyimpanan. ASI yang disimpan di Freezer akan bertahan 2 minggu sedangkan yang disimpan pada chiller akan bertahan selama 3-5 hari. Selanjutnya dilakukan pemantauan suhu penyimpanan untuk menjaga kualitas ASI.

     Distribusi ASI

Petugas mengambil ASI sesuai dengan jadwal feeding dan kebutuhan nutrisi bayi yang telah ditentukan oleh Dokter. Sebelum di distribusikan, petugas melakukan verifikasi ulang terhadap identitas dan masa simpan ASI. Proses distribusi dilakukan menggunakan wadah yang aman dan bersih. Selanjutnya petugas melakukan proses penghangatan ASI sesuai dengan standar. Pemberian ASI dilakukan sesuai dengan kondisi klinis yang telah ditentukan oleh dokter dapat melalui NGT / OGT, dan menggunakan cup fedding atau menyusu langsung kepada ibu nya.

     Monitoring, Dokumentasi dan Evaluasi

Petugas melakukan pemantauan dan dokumentasi terhadap respon dan toleransi minum bayi, kondisi klinis, perkembangan berat badan, serta jumlah ASI yang diberikan. Hasil dari pemantauan dan dokumentasi akan dijadikan bahan untuk dilakukannya evaluasi terhadap pelaksanaan inovasi DUTA ASI meliputi kepatuhan petugas terhadap SOP, keamanan tata kelola ASI, dan keberhasilan ASI. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar perbaikan dan perkembangan inovasi secara berkelanjutan.