DEKAPAN (Deteksi Keluhan Pengeluaran ASI Pasca Persalinan)

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Non Digital
Inisiator Inovasi : Febriani Iman Sari, AMd.Keb
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Pedoman Teknis Inovasi Dekapan (Deteksi Keluhan Pengeluaran ASI Pasca Persalinan)

 
Bentuk Inovasi : Inovasi Pelayanan Publik
Tujuan Inovasi :

Meningkatkan persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif minimal hingga 70% atau lebih tinggi (sesuai target jangka panjang Kemenkes), demi mencapai target global World Health Assembly (WHA) dan menurunkan angka stunting di Indonesia hingga mencapai 14,2% di tahun 2029.

Manfaat Inovasi :
  1. Mencegah komplikasi pada Ibu
  2. Membantu pemenuhan nutrisi bagi bayi
  3. Mencegah terjadinya stunting
  4. Mengurangi penggunaan susu formula pada bayi usia 0-6 bulan
Hasil Inovasi :
  1. Nutrisi dan gizi bayi terpenuhi
  2. Bayi lebih cerdas dan terhindar dari stunting.
Uji Coba Inovasi : Minggu, 26 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Rabu, 26 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi Dekapan (Deteksi Keluhan Pengeluaran ASI Pasca Persalinan)

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM INOVASI

1.  UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
2.  UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak (Pasal 22)
3.  Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif.
4.  Peraturan Menteri Kesehatan No 6 Tahun 2026
5.  Peraturan Gubernur no. 62 tahun 2018 tentang inovasi daerah
6.  Surat Keputusan Direktur RSUD Prof H Muhammad Yamin, SH no Tahun 2026

PERMASALAHAN

Permasalahan Makro

World Health Organization (WHO) dan UNICEF menetapkan target 70% ASI eksklusif pada 2030, namun data 2021-2025 menunjukkan angka pemberian ASI eksklusif secara global masih rendah, hanya sekitar 44-48%. Menurut data Riskesdas tahun 2023, hanya 73,97% dari 2,3 juta bayi berusia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia. Berdasarkan Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2024 (BPS), cakupan ASI eksklusif di Indonesia menunjukkan tren meningkat, mencapai 74,73%. Meskipun tren naik, namun masih perlu ditingkatkan karena belum mencapai target yaitu 80% sesuai yang ditetapkan indikator nasional. Berdasarkan data BPS, Sumatera Barat capaian pemberian ASI eksklusif yaitu sekitar 72,33%.Belum tercapainya target ASI eksklusif ini karena belum lancarnya penyaluran ASI yang terjadi, salah satunya karena sindrom kekurangan ASI (Novitri, 2021). Kondisi produksi ASI yang tertunda >72 jam pascapersalinan diperkirakan terjadi pada sekitar 20-40% Ibu menyusui diberbagai populasi (Sembiring (2017) & Marsiwi (2018) dalam Jurnal SENTRI).Data nasional tahun 2020 menyebutkan bahwa Ibu yang mengalami gangguan produksi ASI atau ASI tidak lancar sebesar 67% (SDKI, 2021). Masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI segera dalam satu jam pertama dan aspek lain seperti kontak kulit rendah, urangnya pengetahuan dan kemampuan ibu pascapersalinan, stress, serta kurangnya dukungan dari keluarga yang akan memberikan hormon cinta / oksitosin yang mendukung pengeluaran ASI (Lawrence & Lawrence, 2016; Moore et al., 2016).

Permasalahan Mikro

  1. Cakupan ASI eksklusif di Kota Pariaman Tahun 2024 sekitar 76,1%, masih kurang dari target nasional sekitar 80%.
  2. Ibu pascapersalinan di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin SH tahun 2025 sebanyak 470 orang dengan rincian 113 pasien bersalin normal, 13 pasien bersalin dibantu dengan

vacum, dan 344 bersalin dengan operasi/section caesarea. Persalinan lewat SC (344 kasus) dan tindakan vacum (13 kasus) melibatkan trauma jaringan, rasa nyeri pasca-bius, serta kecemasan yang masif. Secara klinis, stres fisik dan psikologis ini memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin. Adrenalin bekerja langsung menyempitkan pembuluh darah di sekitar payudara, yang secara mekanis memblokir jalurnya hormon oksitosin (hormo cinta) menuju sel-sel miometrium payudara. Akibatnya, refleks pancaran ASI (let-down reflex) tersendat meskipun kelenjar susu mulai memproduksi ASI. (Lawrence & Lawrence, 2016)

  1. ASI merupakan nutrisi yang sangat baik untuk bayi, kurangnya pengetahuan dan dukungan pada ibu pasca persalinan untuk memberikan ASI bisa membuat Ibu memberikan susu formula pada bayi baru lahir (Kementerian Kesehatan RI, 2020; Rollins et al., 2016).
  2. Berdasarkan hasil survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada ibu pascapersalinan di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin SH pada Januari 2025 kepada 25 orang Ibu bersalin, sebanyak 20 orang mengalami keluhan saat menyusui, atau sekitar 80% dan 2 diantaranya telah memberikan susu formula kepada bayinya.

ISU STRATEGIS
Isu global

Rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu bayi harus mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Namun, di balik target global ini, jutaan ibu di seluruh dunia menghadapi realitas yang kontradiktif. Keluhan menyusui, mulai dari hambatan biologis, tekanan psikologis, hingga minimnya pelindungan hukum. Saat Ibu mengalami hambatan biologis dan psikologis, industri susu formula bernilai miliaran dolar menggunakan taktik pemasaran digital yang agresif, menargetkan ibu baru yang sedang cemas (misalnya, saat mengalami keluhan ASI seret atau puting lecet) untuk menggunakan susu formula sebagai pengganti ASI (WHO & UNICEF, 2022)

Isu nasional

Di Indonesia, isu keluhan menyusui memiliki dimensi yang sangat kompleks karena bersinggungan langsung dengan target nasional penurunan angka stunting, budaya, dan regulasi ketenagakerjaan yang masih rapuh. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi angka stunting nasional berada di angka 19,8% pada tahun 2024. Capaian tahun 2024 diharapkan bisa terus mengalami penurunan di tahun-tahun berikutnya hingga mencapai target nasional yaitu 14,2% pada tahun 2029, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Isu Lokal

Pada tahun 2024, capaian Inisiasi Menyusui Dini di kota Pariaman sebanyak 53.2% sedangkan capaian ASI eksklusif mencapai 90.4% (Dinkes Kota Pariaman, 2024). Data ini telah melebihi target nasional yang hanya sekitar 80%. Meskipun secara administratif pencapaian ASI Eksklusif tercatat mencapai 90%, tantangan terbesar di lapangan adalah durasi. Banyak ibu sukses memberikan ASI Eksklusif pada bulan ke-1 hingga ke-3, namun mulai mengeluhkan hambatan pada bulan ke-4 hingga ke-6. Keluhan seperti persepsi "ASI mulai seret" atau perubahan pola isap bayi sering membuat ibu goyah di bulan-bulan terakhir menjelang usia 6 bulan. Kurangnya manajemen deteksi dini terhadap fase growth spurt (lonjakan pertumbuhan bayi) yang sering disalahartikan ibu sebagai keluhan ASI kurang.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi Sebelum Inovasi

  1. Sebanyak 20 orang Ibu pascapersalinan di Rawatan Kebidanan RSMY bulan Januari tahun 2025 mengeluhkan ASI sedikit.
  2. Sebanyak 2 orang Ibu pascapersalinan di Rawatan Kebidanan RSMY bulan Januari 2025 memberikan susu formula pada bayinya
  3. Sebanyak 15 orang Ibu pascapersalinan di Rawatan Kebidanan RSMY bulan Januari 2025 tidak percaya diri dengan pemberian ASI eksklusif

Kondisi Setelah Inovasi

  1. Sebanyak 22 orang Ibu pascapersalinan di Rawatan Kebidanan RSMY bulan Januari 2025 lebih percaya diri untuk menyusui bayinya
  2. Sebanyak 20 orang Ibu pascapersalinan di Rawatan Kebidanan RSMY bulan Januari 2025 konsisten untuk memberikan ASI eksklusif
  3. Sebanyak 22 orang Ibu pascapersalinan di Rawatan Kebidanan RSMY bulan Januari 2025 Ibu mendapatkan solusi dan ASI lebih lancar

KEUNGGULAN

  1. Dapat mendeteksi dini gangguan menyusui
  2. Menjamin kecukupan nutrisi bayi
  3. Mencegah komplikasi pada Ibu
  4. Mendukung keberhasilan ASI eksklusif
  5. Mengurangi stress dan kecemasan Ibu