Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap
| Tahapan Inovasi | : | Implementasi |
| Jenis Inovasi | : | Non Digital |
| Inisiator Inovasi | : | Febriani Iman Sari, AMd.Keb |
| Urusan Inovasi | : | Kesehatan |
| Panduan Teknis Inovasi | : | Pedoman Teknis Inovasi Dekapan (Deteksi Keluhan Pengeluaran ASI Pasca Persalinan) |
| Bentuk Inovasi | : | Inovasi Pelayanan Publik |
| Tujuan Inovasi | : | Meningkatkan persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif minimal hingga 70% atau lebih tinggi (sesuai target jangka panjang Kemenkes), demi mencapai target global World Health Assembly (WHA) dan menurunkan angka stunting di Indonesia hingga mencapai 14,2% di tahun 2029. |
| Manfaat Inovasi | : |
|
| Hasil Inovasi | : |
|
| Uji Coba Inovasi | : | Minggu, 26 Januari 2025 |
| Implementasi Inovasi | : | Rabu, 26 Februari 2025 |
| Link Youtube | : |
🎥 Tonton Inovasi Dekapan (Deteksi Keluhan Pengeluaran ASI Pasca Persalinan) |
| Rancang Bangun Inovasi | : | DASAR HUKUM INOVASI1. UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan PERMASALAHANPermasalahan MakroWorld Health Organization (WHO) dan UNICEF menetapkan target 70% ASI eksklusif pada 2030, namun data 2021-2025 menunjukkan angka pemberian ASI eksklusif secara global masih rendah, hanya sekitar 44-48%. Menurut data Riskesdas tahun 2023, hanya 73,97% dari 2,3 juta bayi berusia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia. Berdasarkan Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2024 (BPS), cakupan ASI eksklusif di Indonesia menunjukkan tren meningkat, mencapai 74,73%. Meskipun tren naik, namun masih perlu ditingkatkan karena belum mencapai target yaitu 80% sesuai yang ditetapkan indikator nasional. Berdasarkan data BPS, Sumatera Barat capaian pemberian ASI eksklusif yaitu sekitar 72,33%.Belum tercapainya target ASI eksklusif ini karena belum lancarnya penyaluran ASI yang terjadi, salah satunya karena sindrom kekurangan ASI (Novitri, 2021). Kondisi produksi ASI yang tertunda >72 jam pascapersalinan diperkirakan terjadi pada sekitar 20-40% Ibu menyusui diberbagai populasi (Sembiring (2017) & Marsiwi (2018) dalam Jurnal SENTRI).Data nasional tahun 2020 menyebutkan bahwa Ibu yang mengalami gangguan produksi ASI atau ASI tidak lancar sebesar 67% (SDKI, 2021). Masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI segera dalam satu jam pertama dan aspek lain seperti kontak kulit rendah, urangnya pengetahuan dan kemampuan ibu pascapersalinan, stress, serta kurangnya dukungan dari keluarga yang akan memberikan hormon cinta / oksitosin yang mendukung pengeluaran ASI (Lawrence & Lawrence, 2016; Moore et al., 2016). Permasalahan Mikro
vacum, dan 344 bersalin dengan operasi/section caesarea. Persalinan lewat SC (344 kasus) dan tindakan vacum (13 kasus) melibatkan trauma jaringan, rasa nyeri pasca-bius, serta kecemasan yang masif. Secara klinis, stres fisik dan psikologis ini memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin. Adrenalin bekerja langsung menyempitkan pembuluh darah di sekitar payudara, yang secara mekanis memblokir jalurnya hormon oksitosin (hormo cinta) menuju sel-sel miometrium payudara. Akibatnya, refleks pancaran ASI (let-down reflex) tersendat meskipun kelenjar susu mulai memproduksi ASI. (Lawrence & Lawrence, 2016)
ISU STRATEGIS
|
