Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap
| Tahapan Inovasi | : | Implementasi |
| Jenis Inovasi | : | Digital |
| Inisiator Inovasi | : | Ns. Wila Yanti, S.Kep |
| Urusan Inovasi | : | Kesehatan |
| Panduan Teknis Inovasi | : | Lihat Panduan Teknis Inovasi Life (Love, Inspire, Fight and Empathy) |
| Bentuk Inovasi | : | Inovasi Pelayanan Publik |
| Tujuan Inovasi | : |
|
| Manfaat Inovasi | : |
|
| Hasil Inovasi | : |
|
| Uji Coba Inovasi | : | Senin, 06 Januari 2025 |
| Implementasi Inovasi | : | Senin, 03 Februari 2025 |
| Link Youtube | : |
🎥 Tonton Video Inovasi Life (Love, Inspire, Fight and Empathy) |
| Rancang Bangun Inovasi | : | DASAR HUKUM
PERMASALAHANPermasalahan MakroKanker merupakan salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis, sosial, dan ekonomi pasien beserta keluarganya. Menurut World Health Organization (WHO) dan International Agency for Research on Cancer (IARC), pada tahun 2022 terdapat sekitar 20 juta kasus baru kanker dan 9,7 juta kematian akibat kanker di seluruh dunia. Diperkirakan 1 dari 5 orang akan mengalami kanker sepanjang hidupnya. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 30–40% pasien kanker mengalami gangguan psikologis, seperti kecemasan, depresi, dan stres yang berdampak pada kepatuhan menjalani pengobatan serta kualitas hidup pasien. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelayanan kanker tidak cukup hanya berfokus pada terapi medis, tetapi juga memerlukan dukungan psikososial yang komprehensif.(WHO, 2024. IARC, 2022) Di tingkat nasional, kanker juga menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan bahwa Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker, 242.988 kematian akibat kanker, dan lebih dari 1,01 juta penyintas kanker yang masih hidup dalam kurun lima tahun setelah diagnosis. Selain tingginya angka kejadian, berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 34,4% pasien kanker mengalami depresi, sedangkan 46,7% mengalami kecemasan selama menjalani pengobatan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pasien kanker tidak hanya berupa pelayanan medis, tetapi juga membutuhkan edukasi, motivasi, dan pendampingan psikologis secara berkelanjutan untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.(GLOBOCAN Indonesia Fact Sheet 2022). Di tingkat lokal, Provinsi Sumatera Barat memiliki prevalensi kanker sekitar 2,47 per 1.000 penduduk, sehingga termasuk salah satu provinsi dengan beban penyakit kanker yang cukup tinggi di Indonesia. Kondisi tersebut juga tercermin di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, SH Pariaman, di mana jumlah pasien kanker yang mendapatkan pelayanan terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data rumah sakit, pada tahun 2025 terdapat sekitar 202 pasien kanker yang menjalani perawatan. Hasil identifikasi internal menunjukkan bahwa sekitar 90% pasien dan keluarga mengalami tekanan psikologis, berupa rasa takut, cemas, stres, dan kesulitan menerima diagnosis kanker. Di sisi lain, pelayanan yang tersedia masih lebih berorientasi pada aspek klinis, sedangkan pendampingan psikososial belum dilaksanakan secara terstruktur dan berkesinambungan.(Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat; Data Rekam Medis dan hasil observasi internal RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, SH Pariaman Tahun 2025). Permasalahan Mikro
ISU STRATEGISGlobalKanker menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia dengan tren yang terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2022, terdapat sekitar 20 juta kasus baru kanker dan 9,7 juta kematian akibat kanker di seluruh dunia. Diproyeksikan pada tahun 2050 jumlah kasus baru kanker akan meningkat menjadi 35 juta kasus atau naik sekitar 77% dibandingkan tahun 2022 akibat pertumbuhan dan penuaan penduduk. Selain beban fisik, sekitar 30–40% pasien kanker mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, dan stres yang memengaruhi kepatuhan menjalani pengobatan, kualitas hidup, serta keberhasilan terapi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kanker di berbagai negara telah bergeser dari pendekatan yang hanya berorientasi pada tindakan medis menuju pelayanan yang juga memperhatikan aspek psikososial dan kualitas hidup pasien.(WHO, 2024;IARC, 2022). NasionalDi Indonesia, kanker masih menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan beban pelayanan yang sangat tinggi. Data GLOBOCAN 2022 menunjukkan Indonesia memiliki 408.661 kasus baru kanker, 242.988 kematian akibat kanker, serta lebih dari 1,01 juta penyintas kanker yang masih hidup dalam lima tahun setelah diagnosis. WHO Indonesia juga melaporkan bahwa Indonesia mengalami lebih dari 400.000 kasus baru kanker setiap tahun, dengan lebih dari 50% kasus berakhir pada kematian. Tingginya angka kejadian tersebut diikuti oleh besarnya beban psikologis pasien, di mana berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan sekitar 34,4% pasien kanker mengalami depresi dan 46,7% mengalami kecemasan selama menjalani pengobatan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi rumah sakit untuk tidak hanya menyediakan pelayanan medis, tetapi juga pelayanan pendampingan psikososial yang berkesinambungan bagi pasien dan keluarganya.(GLOBOCAN Indonesia Fact Sheet, 2022; WHO, 2024). LokalDi Provinsi Sumatera Barat, prevalensi kanker mencapai sekitar 2,47 per 1.000 penduduk, sehingga menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi kanker yang relatif tinggi di Indonesia. Kondisi tersebut juga tercermin di RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, SH Pariaman, di mana jumlah pasien kanker yang mendapatkan pelayanan terus meningkat, dengan 202 pasien kanker yang menjalani perawatan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan hasil identifikasi internal rumah sakit, sekitar 90% pasien dan keluarganya mengalami tekanan psikologis, seperti rasa takut, cemas, stres, kehilangan harapan, serta kesulitan menerima diagnosis kanker. Di sisi lain, pelayanan yang tersedia masih didominasi oleh aspek klinis sehingga belum terdapat mekanisme pendampingan psikososial yang terstruktur, berkelanjutan, dan melibatkan keluarga secara aktif. Kondisi tersebut menjadi dasar perlunya inovasi LIFE (Love, Inspire, Fight, Empathy End of Life Care) sebagai model pelayanan yang mengintegrasikan aspek medis dengan dukungan psikologis, edukasi, motivasi, dan pendampingan keluarga untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. METODE PEMBAHARUANKondisi Sebelum Inovasi.
Kondisi Setelah Inovasi
KEUNGGULANKeunggulan dari program Inovasi ini antara lain :
CARA KERJA LIFE
|
