SMART MONITORING EWS

Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap

Tahapan Inovasi : Implementasi
Jenis Inovasi : Digital
Inisiator Inovasi : Ns. Wahyuni Nursyahri, S.Kep
Urusan Inovasi : Kesehatan
Panduan Teknis Inovasi :

Lihat Panduan Teknis Inovasi Smart Monitoring EWS 

Bentuk Inovasi : Inovasi pelayanan publik
Tujuan Inovasi :

Tujuan inovasi ini adalah untuk memonitoring kepatuhan petugas dalam pengisian EWS sehingga menjadi sistem deteksi dini (early warning sistem) di rumah sakit dengan memanfaatkan teknologi digital, guna memastikan seluruh pasien kritis teridentifikasi sebelum kondisi mereka memburuk.

Manfaat Inovasi :

1. Bagi Keselamatan Pasien

  • Untuk deteksi dini perburukan kondisi pasien : Dengan sistem monitoring petugas akan mengisi EWS tepat waktu. Sehingga tanda-tanda vital yang memburuk bisa langsung terdeteksi sebelum pasien mengalami kondisi yang buruk.
  • Menurunkan Angka Kematian di Ruang Rawat Inap : Pengisian data yang tepat waktu membuat dokter bisa memberikan intervensi medis atau memindahkan pasien ke ICU lebih cepat (golden hour terselamatkan).
  • Menurunkan Aktivitas Code Blue : Ketika perburukan ditangani sejak awal, insiden darurat medis yang memerlukan aktivasi tim Code Blue di ruangan dapat ditekan secara signifikan

2. Bagi Tenaga Medis

  • Perlindungan Hukum : Rekam medis adalah bukti hukum utama pelayanan pasien . dengan adanya Sistem monitoring ini bisa memastikan dokumentasi EWS terisi lengkap dan real-time. Jika terjadi tuntutan hukum dari keluarga pasien, petugas memiliki bukti kuat telah melakukan pemantauan sesuai standar.
  • Membangun Budaya Kerja Responsif : Mengubah kebiasaan dari yang awalnya mengisi EWS di akhir shift, menjadi disiplin mengisi langsung sesuai kondisi pasien.
  • Komunikasi Antar-Profesi yang Lebih Valid : Ketika EWS terisi dengan akurat dan tepat waktu, perawat dapat memberikan laporan yang objektif dan berbasis data kepada dokter penanggung jawab (DPJP) melalui metode SBAR.

3. Bagi Manajemen dan Mutu Rumah Sakit

  • Efisiensi Waktu dalam melakukan Audit kepatuhan petugas : Tim Mutu atau Kepala Ruangan tidak perlu lagi memeriksa berkas rekam medis fisik satu per satu. Sistem monitoring ini langsung menyajikan data kepatuhan petugas
  • Pengambilan Keputusan Berbasis Data : Pihak manajemen bisa dengan mudah melihat ruangan mana yang kepatuhannya rendah, sehingga bisa langsung mengintervensi, misalnya dengan menambah jumlah staf atau melakukan pelatihan ulang di ruangan tersebut.
Hasil Inovasi :

1. Kepatuhan Petugas

  • Kepatuhan Mencapai 100% :Hasil evaluasi sistem digital menunjukkan kepatuhan perawat dalam melakukan observasi tanda vital meningkat.

2. Penurunan Fatalitas Klinis Pasien

  • Penurunan Angka Kejadian Code Blue :  Deteksi dini yang berjalan otomatis berhasil mencegah pasien jatuh ke kondisi henti jantung mendadak di bangsal.
  • Akurasi Diagnosis : Menghilangkan human error dalam perhitungan skor sehingga tidak ada lagi keterlambatan eskalasi akibat salah klasifikasi tingkat kegawatan pasien. 

3. Efisiensi Operasional Manajemen Rumah Sakit

  • Dokumentasi Paperless: Mengurangi beban administratif perawat (nursing burden) dalam menulis grafik manual, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu berinteraksi langsung dengan pasien (bedside care).
  • Peningkatan Kepuasan Pasien: Nilai kepuasan pasien dan keluarga meningkat karena keluarga merasa dipantau secara ketat.
Uji Coba Inovasi : Rabu, 01 Januari 2025
Implementasi Inovasi : Senin, 10 Februari 2025
Link Youtube :

🎥 Tonton Inovasi Smart Monitoring EWS

Rancang Bangun Inovasi :

DASAR HUKUM

     UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

     Peraturan Menteri Kesehatan No 6 Tahun 2026

     Peraturan Gubernur no. 62 tahun 2018 tentang inovasi     daerah

     Surat Keputusan Direktur RSUD Prof H Muhammad Yamin, SH noTahun 2026

PERMASALAHAN

Permasalahan Makro

Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit dan menjadi indikator penting dalam penilaian mutu pelayanan. Salah satu upaya untuk meningkatkan keselamatan pasien adalah penerapan Early Warning System (EWS), yaitu sistem skoring yang digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya perburukan kondisi klinis pasien berdasarkan parameter vital sign seperti tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, dan tingkat kesadaran. Dengan EWS, diharapkan kondisi pasien yang berisiko mengalami perburukan dapat segera dikenali sehingga tindakan intervensi dan eskalasi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Menurut World Health Organization (WHO), keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan. WHO menegaskan bahwa banyak kejadian yang membahayakan pasien dapat dicegah melalui deteksi dini dan respons klinis yang cepat terhadap perburukan kondisi pasien. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan di rumah sakit adalah Early Warning Score (EWS), yaitu sistem penilaian berdasarkan parameter fisiologis untuk mengenali tanda-tanda perburukan klinis sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan intervensi secara tepat waktu.

Dalam pelaksanaan di Rumah Sakit ditemukan berbagai permasalahan yang mempengaruhi efektivitas penerapan EWS. Salah satu permasalahannya adalah ketidakpatuhan petugas dalam pengisian EWS secara tepat waktu dan berkelanjutan. Pengisian EWS sering kali terlambat, tidak sesuai jadwal pemantauan, atau bahkan tidak terdokumentasi dengan lengkap.

Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, diperlukan suatu inovasi yang mampu mengintegrasikan fungsi monitoring kepatuhan petugas dalam pengisian EWS SISTEM MONITORING KEPATUHAN PENGISIAN EARLY WARNING SYSTEM (SIMON-EWS)

diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan kepatuhan petugas dalam pengisian EWS, mempercepat deteksi dini perburukan kondisi pasien, serta memperkuat sistem keselamatan pasien melalui pemanfaatan teknologi monitoring yang lebih efektif.

Dengan adanya inovasi ini, diharapkan terjadi peningkatan kepatuhan pengisian EWS, perbaikan kualitas dokumentasi, serta peningkatan respon klinis terhadap pasien yang mengalami perubahan kondisi, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit secara keseluruhan.

Permasalahan Mikro

     Ketidaktepatan waktu pengisian EWS

Pengisian EWS seharusnya dilakukan secara berkala sesuai kondisi pasien. Namun, dalam praktiknya, pengisian sering terlambat atau tidak sesuai jadwal karena kesibukan petugas, prioritas tindakan lain, atau pergantian shift.

     Beban kerja perawat yang tinggi

Jumlah pasien yang tinggi menyebabkan perawat mengalami beban kerja yang berat. Kondisi ini membuat dokumentasi EWS sering dianggap sebagai tugas administratif tambahan

sehingga tidak selalu menjadi prioritas utama.

     Kurangnya pemahaman dan pelatihan

Sebagian petugas belum memahami secara optimal konsep EWS, interpretasi skor, serta tindakan klinis yang harus dilakukan berdasarkan hasil skor tersebut. Akibatnya, pengisian EWS dilakukan hanya sebagai formalitas tanpa memahami urgensinya dalam keselamatan pasien.

     Kurangnya kepatuhan terhadap SOP

Meskipun rumah sakit telah memiliki SOP terkait penggunaan EWS, tingkat kepatuhan terhadap SOP tersebut masih belum optimal. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kerja, kurangnya pengawasan, serta belum adanya sistem evaluasi yang ketat.

       Kurangnya supervisi dan audit dokumentasi

Pengawasan dari kepala ruangan atau tim keselamatan pasien terhadap kelengkapan pengisian EWS masih belum maksimal.

Isu Strategis Isu Global

Keselamatan pasien (patient safety) merupakan salah satu perhatian utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga kesehatan internasional. Pasien di seluruh dunia terus mengalami cedera atau kematian akibat asuhan medis yang tidak aman, di mana sebagian besar dari kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah.

Isu Nasional

Di tingkat nasional (Indonesia), isu keselamatan pasien yang berkaitan dengan Early Warning System (EWS) menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI,

Komite Nasional Keselamatan Pasien (KNKP), serta Lembaga Akreditasi Rumah Sakit (seperti

KARS dll.).

Meskipun EWS sudah masuk ke dalam standar akreditasi wajib, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan sistem kesehatan di Indonesia.

Beban Kerja Tinggi Perawat vs Standar Rasio Pasien adalah akar masalah dari banyak kegagalan EWS di ruang rawat inap Indonesia. Tantangan di banyak rumah sakit (terutama

 

RS daerah atau RS dengan volume pasien BPJS yang tinggi), rasio antara jumlah perawat dan pasien sering kali tidak ideal. Dampaknya pengukuran EWS yang seharusnya dilakukan

secara berkala (misal tiap 4 jam untuk pasien risiko sedang) menjadi terbengkalai.

Akibatnya, pengisian EWS sering dilakukan secara retrospektif (dirapel di akhir sif sebelum operan) demi menggugurkan kewajiban dokumentasi, sehingga fungsi "deteksi dini" hilang.

Fenomena "Copy-Paste" Tanda Vital (Khususnya Frekuensi Napas). Dalam penilaian EWS, frekuensi nafas adalah parameter paling sensitif yang mendeteksi perburukan kondisi (seperti sepsis atau syok) sebelum parameter lain berubah.

Fenomena umum yang terjadi di mana frekuensi napas sering kali tidak dihitung secara manual selama satu menit penuh menggunakan jam. Parameter ini kerap diisi secara formalitas dengan angka normal seperti 18 atau 20 kali per menit. Sehingga perburukan kondisi pasien (seperti sesak napas halus akibat penumpukan cairan atau infeksi) gagal terdeteksi oleh skor EWS karena data inputnya tidak akurat.

Isu Lokal

Beban Kerja Tinggi & Krisis Rasio Perawat-Pasien. Di Rumah Sakit volume pasien namun jumlah tenaga keperawatan sangat terbatas.

Standar operasional EWS mewajibkan observasi berkala (misal tiap 2-4 jam pada pasien risiko sedang). Karena keterbatasan waktu, perawat sering kali tidak sempat melakukan pemantauan ketat secara berkala. Skor EWS akhirnya baru diisi di akhir sif sebelum operan (retrospektif), sehingga fungsi "peringatan dini" kehilangan esensinya.

Fenomena Pengisian Data Formalitas, Kasus Frekuensi Napas adalah indikator paling sensitif untuk mendeteksi sepsis atau syok secara dini. Namun, menghitung napas membutuhkan waktu 1 menit penuh tanpa diketahui pasien. Akibat kelelahan dan keterbatasan waktu, parameter ini kerap kali hanya "ditebak" atau ditulis seragam (misal 20x/menit) pada lembar observasi.

Dampaknya Pasien yang sebenarnya mulai mengalami sesak halus atau hipoksia tidak terdeteksi oleh skor EWS karena datanya dimanipulasi secara tidak sengaja agar terlihat normal.

Metode Pembaharuan

     Sistem Berbasis Kertas (Paper-Based) dan Hitung Manual

Perawat mengukur tanda-tanda vital pasien (tensi, nadi, suhu, napas) menggunakan alat terpisah, lalu mencatat hasilnya di secarik kertas atau langsung pada lembar grafik EWS di status pasien. Skor EWS dihitung secara manual dengan mencocokkan angka ke tabel parameter (Hijau, Kuning, Merah).

     Pemantauan Bersifat Berkala dan Terputus (Intermittent)

 

Pemeriksaan tanda vital hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu (misalnya tiap 4 jam, 8 jam, atau hanya sekali di awal sifth). Di antara jeda waktu tersebut

(misal antara jam 10.00 hingga jam 14.00), kondisi pasien sama sekali tidak terpantau oleh sistem.


     Sebelum adanya Smart Monitoring EWS, rumah sakit berada dalam kondisi bertindak ketika pasien sudah kejang, henti napas, atau mengalami henti jantung (Code Blue).

Kondisi setelah inovasi Smart Monotoring EWS

     Pengisian EWS sudah rutin dilakukan sesuai dengan kondisi pasien

     Pengisian EWS sudah dilakukan secara elektronik

     Bisa mendeteksi kondisi perburukan pasien lebih cepat

     Petugas menjadi rutin melakukan pengisian ews pasien.

     Kepatuhan Petugas dalam pengisian ews pasien bisa di monitoring secara real time Keunggulan

     Deteksi Dini Perburukan Kondisi Klinis (Early Detection)

     Standardisasi Penilaian Kondisi Pasien

     Alur Eskalasi Klinis yang Jelas dan Terstruktur

     Menurunkan Angka Kejadian Henti Jantung & Mortalitas

     Optimalisasi Penggunaan Ruang Intensif (ICU/HCU)

Tahapan Pelaksanaan Inovasi

  1. 1.  

1. Pengukuran Tanda Vital Pasien

Perawat secara berkala melakukan pengukuran tanda vital pasien (kesadaran, pernapasan, saturasi oksigen, suhu, nadi, dan tekanan darah).

2.       Input Data dan Skoring Otomatis

  1. Perawat memasukkan hasil pengukuran ke dalam sistem elektronik.
    1. Sistem secara otomatis akan menjumlahkan skor (scoring) dan mengkategorikan kondisi pasien berdasarkan warna (misal: hijau, kuning, merah.)
    2. Data ews akan terintegrasi langsung pada data monitoring kepatuhan petugas

3.       Monitoring dan Evaluasi Kepatuhan

     Sistem memonitor real-time apakah petugas tepat waktu dalam melakukan pengisian EWS.

Manajemen rumah sakit dapat menarik laporan (dashboard) harian/bulanan untuk mengevaluasi kepatuhan masing-masing perawat dan ruangan.