Detail Informasi Inovasi Secara Lengkap
| Tahapan Inovasi | : | Implementasi |
| Jenis Inovasi | : | Digital |
| Inisiator Inovasi | : | Ns. Wahyuni Nursyahri, S.Kep |
| Urusan Inovasi | : | Kesehatan |
| Panduan Teknis Inovasi | : | |
| Bentuk Inovasi | : | Inovasi pelayanan publik |
| Tujuan Inovasi | : | Tujuan inovasi ini adalah untuk memonitoring kepatuhan petugas dalam pengisian EWS sehingga menjadi sistem deteksi dini (early warning sistem) di rumah sakit dengan memanfaatkan teknologi digital, guna memastikan seluruh pasien kritis teridentifikasi sebelum kondisi mereka memburuk. |
| Manfaat Inovasi | : | 1. Bagi Keselamatan Pasien
2. Bagi Tenaga Medis
3. Bagi Manajemen dan Mutu Rumah Sakit
|
| Hasil Inovasi | : | 1. Kepatuhan Petugas
2. Penurunan Fatalitas Klinis Pasien
3. Efisiensi Operasional Manajemen Rumah Sakit
|
| Uji Coba Inovasi | : | Rabu, 01 Januari 2025 |
| Implementasi Inovasi | : | Senin, 10 Februari 2025 |
| Link Youtube | : | |
| Rancang Bangun Inovasi | : | DASAR HUKUMUU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan Peraturan Menteri Kesehatan No 6 Tahun 2026 Peraturan Gubernur no. 62 tahun 2018 tentang inovasi daerah Surat Keputusan Direktur RSUD Prof H Muhammad Yamin, SH noTahun 2026 PERMASALAHANPermasalahan Makro Keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit dan menjadi indikator penting dalam penilaian mutu pelayanan. Salah satu upaya untuk meningkatkan keselamatan pasien adalah penerapan Early Warning System (EWS), yaitu sistem skoring yang digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya perburukan kondisi klinis pasien berdasarkan parameter vital sign seperti tekanan darah, nadi, respirasi, suhu, dan tingkat kesadaran. Dengan EWS, diharapkan kondisi pasien yang berisiko mengalami perburukan dapat segera dikenali sehingga tindakan intervensi dan eskalasi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. Menurut World Health Organization (WHO), keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam pelayanan kesehatan. WHO menegaskan bahwa banyak kejadian yang membahayakan pasien dapat dicegah melalui deteksi dini dan respons klinis yang cepat terhadap perburukan kondisi pasien. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan di rumah sakit adalah Early Warning Score (EWS), yaitu sistem penilaian berdasarkan parameter fisiologis untuk mengenali tanda-tanda perburukan klinis sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan intervensi secara tepat waktu. Dalam pelaksanaan di Rumah Sakit ditemukan berbagai permasalahan yang mempengaruhi efektivitas penerapan EWS. Salah satu permasalahannya adalah ketidakpatuhan petugas dalam pengisian EWS secara tepat waktu dan berkelanjutan. Pengisian EWS sering kali terlambat, tidak sesuai jadwal pemantauan, atau bahkan tidak terdokumentasi dengan lengkap. Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, diperlukan suatu inovasi yang mampu mengintegrasikan fungsi monitoring kepatuhan petugas dalam pengisian EWS SISTEM MONITORING KEPATUHAN PENGISIAN EARLY WARNING SYSTEM (SIMON-EWS) diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan kepatuhan petugas dalam pengisian EWS, mempercepat deteksi dini perburukan kondisi pasien, serta memperkuat sistem keselamatan pasien melalui pemanfaatan teknologi monitoring yang lebih efektif. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan terjadi peningkatan kepatuhan pengisian EWS, perbaikan kualitas dokumentasi, serta peningkatan respon klinis terhadap pasien yang mengalami perubahan kondisi, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit secara keseluruhan. Permasalahan MikroKetidaktepatan waktu pengisian EWS Pengisian EWS seharusnya dilakukan secara berkala sesuai kondisi pasien. Namun, dalam praktiknya, pengisian sering terlambat atau tidak sesuai jadwal karena kesibukan petugas, prioritas tindakan lain, atau pergantian shift. Beban kerja perawat yang tinggiJumlah pasien yang tinggi menyebabkan perawat mengalami beban kerja yang berat. Kondisi ini membuat dokumentasi EWS sering dianggap sebagai tugas administratif tambahan sehingga tidak selalu menjadi prioritas utama. Kurangnya pemahaman dan pelatihanSebagian petugas belum memahami secara optimal konsep EWS, interpretasi skor, serta tindakan klinis yang harus dilakukan berdasarkan hasil skor tersebut. Akibatnya, pengisian EWS dilakukan hanya sebagai formalitas tanpa memahami urgensinya dalam keselamatan pasien. Kurangnya kepatuhan terhadap SOPMeskipun rumah sakit telah memiliki SOP terkait penggunaan EWS, tingkat kepatuhan terhadap SOP tersebut masih belum optimal. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kerja, kurangnya pengawasan, serta belum adanya sistem evaluasi yang ketat. Kurangnya supervisi dan audit dokumentasiPengawasan dari kepala ruangan atau tim keselamatan pasien terhadap kelengkapan pengisian EWS masih belum maksimal. Isu Strategis Isu GlobalKeselamatan pasien (patient safety) merupakan salah satu perhatian utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga kesehatan internasional. Pasien di seluruh dunia terus mengalami cedera atau kematian akibat asuhan medis yang tidak aman, di mana sebagian besar dari kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah. Isu NasionalDi tingkat nasional (Indonesia), isu keselamatan pasien yang berkaitan dengan Early Warning System (EWS) menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Komite Nasional Keselamatan Pasien (KNKP), serta Lembaga Akreditasi Rumah Sakit (seperti KARS dll.). Meskipun EWS sudah masuk ke dalam standar akreditasi wajib, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan sistem kesehatan di Indonesia. Beban Kerja Tinggi Perawat vs Standar Rasio Pasien adalah akar masalah dari banyak kegagalan EWS di ruang rawat inap Indonesia. Tantangan di banyak rumah sakit (terutama
RS daerah atau RS dengan volume pasien BPJS yang tinggi), rasio antara jumlah perawat dan pasien sering kali tidak ideal. Dampaknya pengukuran EWS yang seharusnya dilakukan secara berkala (misal tiap 4 jam untuk pasien risiko sedang) menjadi terbengkalai. Akibatnya, pengisian EWS sering dilakukan secara retrospektif (dirapel di akhir sif sebelum operan) demi menggugurkan kewajiban dokumentasi, sehingga fungsi "deteksi dini" hilang. Fenomena "Copy-Paste" Tanda Vital (Khususnya Frekuensi Napas). Dalam penilaian EWS, frekuensi nafas adalah parameter paling sensitif yang mendeteksi perburukan kondisi (seperti sepsis atau syok) sebelum parameter lain berubah. Fenomena umum yang terjadi di mana frekuensi napas sering kali tidak dihitung secara manual selama satu menit penuh menggunakan jam. Parameter ini kerap diisi secara formalitas dengan angka normal seperti 18 atau 20 kali per menit. Sehingga perburukan kondisi pasien (seperti sesak napas halus akibat penumpukan cairan atau infeksi) gagal terdeteksi oleh skor EWS karena data inputnya tidak akurat. Isu Lokal Beban Kerja Tinggi & Krisis Rasio Perawat-Pasien. Di Rumah Sakit volume pasien namun jumlah tenaga keperawatan sangat terbatas. Standar operasional EWS mewajibkan observasi berkala (misal tiap 2-4 jam pada pasien risiko sedang). Karena keterbatasan waktu, perawat sering kali tidak sempat melakukan pemantauan ketat secara berkala. Skor EWS akhirnya baru diisi di akhir sif sebelum operan (retrospektif), sehingga fungsi "peringatan dini" kehilangan esensinya. Fenomena Pengisian Data Formalitas, Kasus Frekuensi Napas adalah indikator paling sensitif untuk mendeteksi sepsis atau syok secara dini. Namun, menghitung napas membutuhkan waktu 1 menit penuh tanpa diketahui pasien. Akibat kelelahan dan keterbatasan waktu, parameter ini kerap kali hanya "ditebak" atau ditulis seragam (misal 20x/menit) pada lembar observasi. Dampaknya Pasien yang sebenarnya mulai mengalami sesak halus atau hipoksia tidak terdeteksi oleh skor EWS karena datanya dimanipulasi secara tidak sengaja agar terlihat normal. Metode PembaharuanSistem Berbasis Kertas (Paper-Based) dan Hitung Manual Perawat mengukur tanda-tanda vital pasien (tensi, nadi, suhu, napas) menggunakan alat terpisah, lalu mencatat hasilnya di secarik kertas atau langsung pada lembar grafik EWS di status pasien. Skor EWS dihitung secara manual dengan mencocokkan angka ke tabel parameter (Hijau, Kuning, Merah). Pemantauan Bersifat Berkala dan Terputus (Intermittent)
Pemeriksaan tanda vital hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu (misalnya tiap 4 jam, 8 jam, atau hanya sekali di awal sifth). Di antara jeda waktu tersebut(misal antara jam 10.00 hingga jam 14.00), kondisi pasien sama sekali tidak terpantau oleh sistem.
Sebelum adanya Smart Monitoring EWS, rumah sakit berada dalam kondisi bertindak ketika pasien sudah kejang, henti napas, atau mengalami henti jantung (Code Blue). Kondisi setelah inovasi Smart Monotoring EWS Pengisian EWS sudah rutin dilakukan sesuai dengan kondisi pasien Pengisian EWS sudah dilakukan secara elektronik Bisa mendeteksi kondisi perburukan pasien lebih cepat Petugas menjadi rutin melakukan pengisian ews pasien. Kepatuhan Petugas dalam pengisian ews pasien bisa di monitoring secara real time Keunggulan Deteksi Dini Perburukan Kondisi Klinis (Early Detection) Standardisasi Penilaian Kondisi Pasien Alur Eskalasi Klinis yang Jelas dan Terstruktur Menurunkan Angka Kejadian Henti Jantung & Mortalitas Optimalisasi Penggunaan Ruang Intensif (ICU/HCU) Tahapan Pelaksanaan Inovasi
1. Pengukuran Tanda Vital Pasien Perawat secara berkala melakukan pengukuran tanda vital pasien (kesadaran, pernapasan, saturasi oksigen, suhu, nadi, dan tekanan darah). 2. Input Data dan Skoring Otomatis
3. Monitoring dan Evaluasi KepatuhanSistem memonitor real-time apakah petugas tepat waktu dalam melakukan pengisian EWS. Manajemen rumah sakit dapat menarik laporan (dashboard) harian/bulanan untuk mengevaluasi kepatuhan masing-masing perawat dan ruangan. |
