DASAR HUKUM
- Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
- Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 812/Menkes/Per/VII/2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis di fasilitas pelayanan kesehatan
- Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran.
- Undang- undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 148 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktek Keperawatan Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 62 Tahun 2018 tentang Inovasi Daerah.
PERMASALAHAN Permasalahan Makro Kegagalan fungsi ginjal dapat menimbulkan komplikasi gangguan kesehatan lainnya, salah satunya adalah kondisi overload cairan yang merupakan faktor pemicu terjadinya gangguan kardiovaskuler bahkan kematian yang terjadi pada pasien GGK (Angelantonio, Chowdhury, Sarwar, Aspelund, Danesh, & Gudnason, 2010 dan Caturvedy, 2014) Keefektifan pembatasan jumlah cairan pada pasien GGK bergantung kepada beberapa hal, antara lain pengetahuan pasien terhadap jumlah cairan yang boleh diminum. Upaya untuk mencipta-kan pembatasan asupan cairan pada pasien GGK diantaranya dapat dilakukan melalui pemantauan intake output cairan per harinya, sehubungan dengan intake cairan pasien GGK bergantung pada jumlah urin 24 jam (Europe-an Society for Parenteral and Enteral Nutri-tion dalam Pasticci, Fantuzzi, Pegoraro, Mc Cann, Bedogni, 2012). Pemantauan dilakukan dengan cara mencatat jumlah cairan yang diminum dan jumlah urin setiap harinya pada chart/tabel (Shepherd, 2011). Sehubungan dengan pentingnya program pembatasan cairan pada pasien dalam rangka mencegah komplikasi serta mempertahankan kualitas hidup, maka perlu dilakukan analisis praktek terkait intervensi dalam mengontrol jumlah asupan cairan melalui pencatatan jumlah cairan yang diminum serta urin yang dikeluarkan setiap harinya.
Permasalahan Mikro Kurangnya inisiatif pasien dalam mengontrol cairan selama dirumah. Masih ditemukan beberapa pasien yang memiliki peningkatan BB melebihi 3000gr. Kurangya dukungan keluarga dalam memotivasi pasien dalam mengontrol konsumsi cairan selama dirumah atau sebelum HD dengan batas normal 500-750ml/24jam.
ISU STRATEGIS Global Penyakit Ginjal Kronik (PGK) termasuk dalam peringkat ke-10 yang dapat menyebabkan kematian. Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2019 jumlah PGK adalah 1,3 juta penduduk di dunia. Berdasarkan data United States Renal Data System, prevalensi angka kematian pada pasien PGK di Amerika Serikat mencapai 118,3 per seribu penduduk (United States Renal Data System, 2020). Ketidakpatuhan terhadap perawatan dialisis secara umum dilaporkan pada tingkat antara 8,5% dan 22,1% di seluruh dunia dan, dalam satu studi, setinggi 86% ( Matteson & Russell, 2010 ).
Nasional Jumlah pasien berdasarkan diagnosis utama pada tahun 2020 tertinggi adalah CKD Stage 5 dengan total 61.786 kasus, disusul acute kidney injury sebanyak 4.625 kasus (IRR.2020)
Lokal Jumlah padien HD di RSUD Pariaman adalah 82 orang periode tahu 2024 ini. Untuk tingkat kepatuhan pasien dalam mengontrol kebutuhan cairan dengan indikator ukur Interdialytic Weight Gains (IDWG) yang merupakan salah satu indikator untuk membetasi penambahan bereta badan di antara dua sesi hemodialisa yang di detumakan kategori Ringan (33,3%), sedang (14,5 %) dan berat (52,2%) dari 69 orang pasien yang rutin timbang berat badan di minggu ke2 Sepetember 2024. METODE PEMBAHARUAN Kondisi Sebelum Inovasi Masih tingginya angka ketidakpatuhan pasien gagal ginjal kronik terhadap intake cairan akan mengakibatkan berbagai komplikasi seperti kelebihan cairan secara kronik dan meningkatkan resiko pada kardiovaskuler dan hipertensi. Kepatuhan pembatasan cairan pada pasien hemodialisis tergantung pada pengetahuan asupan cairan yang baik. Pengetahuan ini bisa didapatkan dari petugas kesehatan, salah satunya adalah perawat. Disini perawat berperan sebagai edukator, dimana perawat memberikan pendidikan kesehatan mengenai pembatasan cairan pada pasien hemodialisis dengan harapan dapat membantu pasien hemodialisis dalam mematuhi asupan cairan. Peran perawat sebagai edukator memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien masih sangat penting untuk dilakukan, agar tercapainya derajat kesehatan yang lebih baik termasuk didalamnya adalah kepatuhan dalam asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialysis. Asupan cairan berhubungan dengan kebutuhan fisik, kebiasaan, adat istiadat, sosial ritual, atau penyakit. Orang minum untuk meringankan kekeringan mulut; untuk mencocokkan konsumsi makanan atau untuk menikmati rasa atau pengalaman efek psikotropika cairan. Beberapa laporan menunjukkan bahwa musim dapat mempengaruhi konsumsi cairan. Bagaimanapun variasi yang tidak jelas alasan pasien, asupan cairan terutama reaksi peraturan untuk kehausan merupakan respon fisiologis kekurangan cairan tubuh, atau sistematis hypertonicity. Sensasi haus sering berupa kegiatan perilaku seperti minum, timbul dari proses motivasi dan kognitif yang memunculkan perilaku. Karena asupan natrium merupakan penyebab utama dari sensasi haus osmometrik pasien yang di HD.
Kondisi Setelah Inovasi Banyak pasien HD yang minum lebih banyak, jauh dari yang direkomendasikan. Meskipun pasien menyadari harus patuh terhadap penjatahan cairan tapi pasien masih berkeinginan untuk minum, karena menciptakan keadaan tidak nyaman yaitu ambivalensi antara minum dan tidak minum. Ketegangan ini juga telah dikaitkan dengan hilangnya interaksi sosial dan juga menggambarkan manajemen cairan sebagai perjuangan terus-menerus dari pasien HD, tidak peduli apakah berhasil atau tidak. Psikologis berkontribusi terhadap asupan cairan yang berlebihan pada pasien dialysis, dan mengasumsikan bahwa ada ketegangan antara kebutuhan untuk membatasi asupan cairan dan keinginan untuk minum. Monitoring keseimbangan cairan dilakukan dengan cara mencatat pemasukan dan pengeluaran cairan. Pemasukan cairan meliputi jenis dan jumlah cairan. Sedangkan pengeluaran cairan adalah jumlah urin. Pasien mengisi buku catatan harian untuk memonitoring keseimbangan cairan setiap hari. Buku catatan harian membantu pasien dalam memecahkan masalah, mengambil keputusan dan tindakan dalam menanggapi respon haus. Dari indikator kepatuhan IDWG di harapkan pasien dengan kelebihan cairan ringan lebih meningkat lagi sebagai indikator kesuksesan dalam inovasi ini.
KEUNGGULAN Dengan adanya inovassi Pasien Kontrol Cairan Sebelum HD (PATROLI SE-HD) pasien dan keluarga dapat berkolaborasi mencatat jumlah cairan yang masuk perjamnya dan di hitung delama 24 jam sehingga si pasien mampu mengontrol cairan yang masuk dan membatasi intake sebelum hemodialisa jika intake sudah melebehi kebutuhan standar pasien dengan gagal ginjal dengan HD.
TAHAPAN / CARA KERJA INOVASI Seluruh petugas Hemodialisa memberikan blangko pencatatan cairan intake dan out put (Chart Pemantuaun Intake Output Cairan) yang mana halaman untuk 24 jam selama dirumah. Setelah pasien mendapatkan blangko tersebut pasien membawa pulang blangko untuk nantiknya sebagai catatan jumlah intake dan out put cairan yang mana nantiknya bisa di bantu oleh keluarga dalam pencatatan. Dengan adanya catatan ini pasien dan keluarga bisa melihat intake dan out put selama 24 jam sehingga bisa membatasi cairan yang masuk jika melebihi standar serta mencatat keluhan selama dirumah di kolom keterangan jika mengalami masalah seperti sesak, mual, muntah dan keluhan lainnya selama diruamah. Catatan ini bisa juga di bawa saat kontrol ulang ke poliklinik atausaat hemodialisa sebagai bahan untuk dokter atau pun perawat untuk melihat kepatuhan pasien selama di rumah |