DASAR HUKUM
- Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan;
- Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan;
- Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran;
- Undang- undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 148 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktek Keperawatan;
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2017 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Integrasi;
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer;
- Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 62 Tahun 2018 tentang Inovasi Daerah
PERMASALAHAN Permasalahan Makro Pada dasarnya kecemasan adalah kondisi psikologis seseorang yang penuh dengan rasa takut dan khawatir, dimana perasaan takut dan khawatir akan sesuatu hal yang belum pasti akan terjadi yang menggambarkan efek negatif dan rangsangan fisiologis (Lestari Akbar et al., 2023). American Psychological Association (APA) dalam (Muyasaroh et al. 2020), kecemasan merupakan keadaan emosi yang muncul saat individu sedang stress, dan ditandai oleh perasaan tegang, pikiran yang membuat individu merasa khawatir dan disertai respon fisik (jantung berdetak kencang, naiknya tekanan darah, dan lain sebagainya). Rasa cemas atau anxietas dapat dimiliki oleh setiap pasien maupun keluarga pasien yang sedang berada di rumah sakit,, rasa cemas ini berbeda-beda antara setiap orang dan apabilah rasa cemas tidak mendapat perhatian di dalam suatu lingkungan, maka rasa cemas itu dapat menimbulkan suatu masalah yang serius. Perawat selama 24 jam merawat dan melayani pasien rawat inap dengan tugas pekerjaan melakukan asuhan keperawatan dan non keperawatan (pekerjaan administrasi rawat inap). Intervensi mandiri keperawatan untuk persiapan psikologis pre operasi yaitu mengatasi kecemasan. Metode penatalaksanaan kecemasan mencakup pendekatan farmakologi dan non farmakologi. Pendekatan farmakologi lebih mahal dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik. Dengan pendekatan non farmakologi seperti intervensi psikologis dapat mengurangi kecemasan pada orang yang tidak sehat, populasi klinis, dan meningkatkan hasil psikososial pada orang dengan gangguan kecemasan dan depresi (Kuyken et al., 2016). Sedangkan dalam proses penyembuhan pasien membutuhkan semangat spiritualisme sehingga adanya ketenangan dan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah. Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mengurangi kecemasan pada pasien yaitu teknik distraksi. Distraksi disini adalah mengalihkan perhatian pasien dengan hal yang lain sehingga pasien dapat menurunkan kewaspadaan terhadap cemas. Penatalaksanaan kecemasan dalam tahap pencegahaan serta terapi membutuhkan metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu dengan metode pendekatan psikoreligius, yaitu membantu ibadah Shalat pasien dengan tayamum dan memberikan terapi murottal Al-Quran.
Permasalahan Mikro
- Belum adanya skrining untuk kecemasan dan intervensi untuk mengatasi kecemasan pada pasien rawat inap
- Hasil observasi dan wawancara dirawat inap di dapatkan pasien belum paham bagaimana melaksanakan sholat selama sakit
- Keterbatasan jumlah tenaga bagian pembinaan rohani Islam yang menyebabkan belum optimal melakukan pembinaan kepada pasien
- Perawat di RSUD Pariaman belum sepenuhnya bisa membantu pasien menjaga agama/aqidahnya selama rawat inap dalam hal Shalat 5 waktu
- Membantu terlaksananya visi RSUD Pariaman yang menjunjung tinggi nilai islami
ISU STRATEGIS
Global Profesi keperawatan bagi umat Islam diyakini suatu profesi yang bernilai ibadah, mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan (humanistik), mendahulukan kepentingan kesehatan dari individu, keluarga, kelompok dan masyarakat di atas kepentingan sendiri dengan menggunakan pendekatan holistik. Dengan demikian paradigma pelayanan kesehatan Islam memiliki komponen utama, yaitu; kemanusiaan, lingkungan, kesehatan, medis dan keperawatan. Islam telah mengajarkan tentang pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan komprehensif baik bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang ditujukan kepada individu maupun masyarakat (Wahyu Sulistiadi & Sri Rahayu, 2016). Menurut WHO Diperkirakan 4% dari populasi global saat ini mengalami gangguan kecemasan. Pada tahun 2019, 301 juta orang di dunia mengalami gangguan kecemasan, menjadikan gangguan kecemasan sebagai gangguan mental yang paling umum.
Nasional Menurut RISKESDAS tahun 2018 prevalensi di Indonesia menunjukkan angka sebesar 9,8% yang terjadi gangguan kecemasan. Kecemasan akan berdampak pada perubahan perilaku seperti, menarik diri dari lingkungan, sulit fokus dalam beraktivitas, susah makan, mudah tersinggung, rendahnya pengendalian emosi amarah, sensitive, tidak logis, susah tidur (Jarnawi, 2020) pasien akan merasa tidak tenang dan selalu gelisah dalam menjalani pengobatan karena timbul kejenuhan lingkungan rumah sakit serta kurangnya pemberian informasi dan pandangan dari perawat agar pasien lebih merasa tenang (Hidayat & Hayati, 2019).
Lokal Di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman pemberian informasi pada pasien rawat inap sudah dilakukan, namun screening untuk kecemasan dan intervensi untuk mengatasi kecemasan pasien rawat inap belum ada. Hingga saat ini pengaruh pemberian terapi murottal dan cara bertayamum pasien untuk beribadah untuk penurunan kecemasan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman belum dapat dijelaskan.
METODE PEMBAHARUAN Kondisi Sebelum Inovasi Ketika pasien dirawat di rumah sakit dalam waktu lama, mereka sering kali mendapatkan pengobatan serta banyak sekali prosedur. Pasien cenderung mengembangkan perasaan putus asa, lemah, penurunan kualitas hidup, isolasi, perubahan dalam hidup, sosial, gambaran tubuh, kecemasan dan depresi. Masalah pasien ini wajib dan ditangani dengan tepat untuk meningkatkan kesehatan semua orang, termasuk kesejahteraan psikososial dan Spiritual (Mersin et al., 2019). Rumah sakit merupakan miniaturnya kehidupan manusia mulai dari pemeliharaan/pemeriksaan kesehatan, perencanaan kehamilan, proses pemeliharaan/perawatan kondisi sakit dan bahkan kematian sehingga dibutuhkan kepercayaan terhadap pelaksana pelayanan, ketenangan dan kenyamanan bagi pengguna pelayanan rumah sakit. Sangat diharapkan penyedia layanan rumah sakit dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pasien karena pasien bersama keluarganya untuk ke rumah sakit sudah mengeluarkan pengorbanan berupa keuangan, waktu, usaha-daya, dan ketidaknyamanan psikologis. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 97 : “Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”(Al-Qur’an Terjemahan Departemen Agama, 2021c). Perawat selama 24 jam merawat dan melayani pasien rawat inap dengan tugas pekerjaan melakukan asuhan keperawatan dan non keperawatan (pekerjaan administrasi rawat inap) sedangkan pasien rawat inap dalam proses penyembuhannya membutuhkan semangat spiritualisme sehingga adanya ketenangan dan penyerahan diri (tawakkal) kepada Allah. Pada kondisi seperti inilah membutuhkan keikut sertaan perawat rawat inap dalam membantu proses penyembuhan pasien dengan mengingatkan dan membimbing pasien melakukan ibadah selama sakit agar pasien dapat terjaga agamanya. Sumber daya manusia profesi keperawatan merupakan faktor terpenting dalam pelayanan rumah sakit, karena di hampir setiap negara hingga 80% pelayanan kesehatan diberikan oleh perawat. Di RSUD Pariaman pasien yang membutuhkan pelayanan spiritual sudah cukup terbantu dengan adanya tim rohaniawan, namun belum sepenuhnya bisa mengurangi kecemasan pasien karena tim rohaniawan lebih sering didatangkan saat pasien dengan kondisi terminal. Hasil survey awal yang dilakukan pada tanggal 15-19 Agustus 2024 di Paviliun Nan Tongga RSUD Pariaman, yang dilakukan dengan 10 orang pasien didapatkan 4 orang pasien mengatakan cemas terjadi karena kondisi penyakit, 4 orang mengatakan cemas karena tidak bisa beribadah saat dirawat dan 2 orang lagi tidak merasa cemas karena berpasrah diri kepada Allah SWT, namun hasil wawancara dengan salah satu perawat Paviliun Nan Tongga RSUD Pariaman mengatakan bahwa perawat selalu mendengarkan setiap keluhan pasien dengan perhatian. Dalam memberikan perawatan kepada pasien, terkadang perawat hanya memperhatikan aspek fisik saja padahal peran perawat dalam keperawatan tidak hanya didasarkan pada aspek fisik, tetapi juga aspek psikologis dan sosiologis. Berdasarkan latar belakang di atas saya sangat termotivasi dalam mengatasi masalah tersebut, maka lahirlah inovasi Kurangi Kecemasan Pasien dengan Terapi Murottal dan Tayamum (Resapan Teratay)
Kondisi Setelah Inovasi Dengan adanya inovasi “RESAPAN TERATAY” (Kurangi Kecemasan Pasien dengan Terapi Murottal dan Tayamum), dimana kecemasan pasien terhadap penyakitnya bisa menurun setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dan pasien tetap bisa beribadah selama sakit dengan bertayamun jika pasien tidak mampu ke kamar mandi untuk berwudhu. Terapi Murottal yang digunakan adalah surah Ar-rahman karena surah Ar-Rahman menceritakan tentang keagungan dan maha pemurahNya Allah terhadap hamba-hambaNya. Inovasi ini juga dapat bermanfaat bagi keluarga pasien dan perawat dalam merawat pasien. Lantunan ayat suci Al-Qur’an secara fisik mengandung suara manusia yang merupakan instrument peyembuh yang menakjubkan serta praktis dijangkau. suara bisa mengaktifkan hormon endorphin alami, menurunkan hormon-hormon stress, menaikkan perasaan rileks, dan mengalihkan perhatian asal rasa cemas, takut serta tegang. Memperbaiki sistem kimia tubuh, sebagai akibatnya menurunkan tekanan darah, serta memperlambat pernafasan, denyut nadi, detak jantung serta aktifitas gelombang otak. Laju pernafasan yang dalam serta lambat tadi sangat baik untuk mengendalikan emosi, menyebabkan ketenangann, metabolism yang lebih baik dan pemikiran yang lebih dalam
KEUNGGULAN Dengan adanya “RESAPAN TERATAY” (Kurangi Kecemasan Pasien dengan Terapi Murottal dan Tayamum) ini Dapat menurunkan kecemasan pasien selama dirawat dan juga meningkatkan keimanan dan keyakinan pasien kepada Allah SWT, dikarenakan pada saat dirawat pasien masih dapat beribadah. Disamping menjadi solusi terhadap permasalahan kecemasan pasien, terapi murottal juga bermanfaat bagi keluarga pasien dan juga Perawat, karena terapi murottal juga mampu dalam menurunkan hormon - hormon penyebab stress, meningkatkan perasaan rileks serta dapat mengalihkan perhatian dari perasaan cemas dan takut.
TAHAPAN / CARA KERJA INOVASI
- Terapi Murottal
Persiapan Alat
1) Menyiapkan MP3/ handphone (HP) dengan berisikan murottal (Surat Ar-Rahman), dengan volume 60 dB dan baterai dalam keadaan penuh atau siap pakai.
2) Murottal Ar-Rahman yang digunakan versi Muzammil Hasballah dengan durasi 16 menit
3) Menyiapkan Earphone/Headset
1) Menanyakan keperluan pasien terlebih dahulu seperti ingin makan atau buang air kecil agar saat intervensi berlangsung tidak ada gangguan
2) Memastikan pasien dalam keadaan siap dan bersedia mengikuti intervensi
3) Memastikan lingkungan disekitar pasien aman dari gangguan selama intervensi diberikan
4) Memposisikan pasien senyaman mungkin
1) Lakukan pengkajian 2 jam sebelum pemberian terapi Murrotal Al-Quran kepada pasien dan identifikasi masalah kesehatan pasien, mengukur tekanan darah pasien
2) Kaji kebutuhan perawat, minta bantuan perawat lain jika perlu
3) Siapkan alat (MP3/ handphone (HP) dengan berisikan murottal dan Earphone/Headset)
1) Mengucapkan salam
2) Memperkenalkan diri
3) Mengidentifikasi pasien
4) Menjelaskan prosedur intervensi yang akan dilakukan
5) Cuci tangan
6) Mendekatkan alat (MP3/ handphone (HP) dengan berisikan murottal dan Earphone/Headset)
7) Menjaga privasi pasien (menutup dengan menggunakan skerem atau pembatas ruangan)
1) Mengatur posisi pasien senyaman mungkin dan mengukur tekanan darah pasien
2) Menempatkan Mp3/Handphone (HP) didekat pasien dan memakaikan earphone di telinga pasien
3) Menyalakan Mp3/Handphone (HP) yang berisikan murottal (Surat Ar-Rahman)
4) Mendengarkan murottal dengan intensitas 60 dB (tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah) selama 15 menit.
5) Pasien dibiarkan rileks selama 10 menit
6) Mengukur kembali tekanan darah dan kecemasan pasien
7) Fase Terminasi
8) Membereskan alat-alat
9) Mencuci tangan
10) Dokumentasi
Tata Cara Bertayamum :
- Membaca basmalah
- Menepukkan kedua telapak tangan ditempat berdebu (tembok) atau Tayamum Pad
- Mengangkat kedua telapak tangan dan kemudian meniup
- Mengusap muka
- Mengusap punggung telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri sampai pergelangan.
- Mengusap punggung telapak tangan kiri dengan telapak tangan kanan sampai pergelangan.
|